Bab 180
Ian
Aku jatuh cinta sama cowok yang gede di rumah trailer deket pantai, orang tua aku mikir dia cuma ngincer duit aku, tapi aku kenal dia, dan dia terlalu bangga buat nerima apa pun dari aku. "Aku beliin kamu sesuatu," kita duduk bersila hadap-hadapan di atas futon kecilnya.
"David, aku udah bilang jangan beliin aku hadiah," Ian dan aku sekolah di sekolah swasta yang sama, orang tua aku nggak masalah bayarin aku, tapi Ayahnya Ian pengen yang terbaik buat dia, jadi dia kerja keras buat mastiin Ian tetep sekolah di situ.
"Aku pengen ngasih satu hal yang baik buat kamu, tolong izinin aku," dia nggak mau nerima jam tangan yang aku beliin. Harganya 500 dolar, aku tau, tapi menurut aku itu banget dia, tapi yang dia liat cuma duitnya.
"Nggak bisa, kamu tau kan aku nggak bisa," dia menyingkirkan tanganku yang megang hadiahnya. "Aku cinta kamu karena itu, tapi kamu tau aku nggak bakal nerimanya."
Aku naruh hadiahnya di antara kita dan maju ke arah dia, megang mukanya pake tanganku, kening kita nempel pas kita saling liat mata. "Aku benci kamu nggak bisa liat lebih dari ini, kenapa kamu benci aku kaya?" Dia nggak nyaman kalo di rumah aku, jadi aku main sama dia di trailernya, tempat dia tinggal sama Ayahnya.
Aku duduk lagi di depannya. "Aku nggak benci, David, aku cuma bilang duit bukan siapa aku."
"Tapi ini bukan soal duit, Ian, ini hadiah. Hadiah yang aku beli karena aku tau kamu bakal suka, kalo kamu mau repot-repot buat buka."
"Kenapa ini selalu jadi masalah kita? Aku udah bilang pas kita mulai pacaran aku nggak mau apa-apa selain cinta kamu."
"Dan kamu punya semua cinta aku, tapi bukan berarti aku nggak bisa beliin kamu makan siang kan? Atau kalo aku lagi keluar dan liat kaos yang kamu suka, aku nggak bisa beliin buat kamu?"
"Ada kaos di kotak itu?" dia nunjuk kotak di antara kita.
"Nggak, kotaknya kekecilan, tapi bisa aja kaos," dia ngambil kotak beludru item itu, merhatiinnya. "Aku nggak berusaha buat beli kamu atau apa pun, Ian."
Dia ngeliat aku, masih megang kotaknya. "Aku udah gini seumur hidup aku," dia nunjuk sekeliling kamar tidurnya yang kecil. "Nggak ada yang pernah beliin aku apa pun cuma-cuma, nggak ada yang semahal ini setidaknya."
Aku ketawa. "Kamu bahkan nggak tau isinya kotak itu."
"Sesuatu yang lebih berharga dari aku," dia buang muka. Aku benci kalo dia ngomong gitu, itu bikin patah hati.
"Ian, tolong jangan ngomong gitu," aku ambil kotaknya, ngelemparnya ke lantai. "Nggak ada yang lebih berharga dari kamu, bahkan isi kotaknya."
Dia senyum tipis. "Aku jadi pengen sekarang."
"Nggak! Kamu nggak usah buka kalo kamu nggak mau. Lagian mungkin udah rusak." Dia ketawa. "Kamu ngelemparnya lumayan kenceng."
Aku ketawa juga. "Iya ya?"
"Sini," dia narik aku ke arahnya dan kita tiduran, tangannya meluk aku. "Aku nggak bisa bantu, emang gini aku adanya, aku nggak mikir ada apa pun yang bisa kamu kasih ke aku yang lebih aku mau dari kamu, David.
Kamu segalanya yang aku mau," dia cium pipiku, bikin aku senyum.
"Aku tau itu, tapi aku nggak bisa bantu, kalo aku liat sesuatu, aku bakal pengen itu buat kamu, emang salah?"
Dia meluk aku, nggak ngomong apa-apa. "Ngomong sama aku, Ian."
"Aku nggak bisa ngasih kamu hal-hal yang pengen aku kasih, David," dia ngaku, bikin aku keluar dari pelukannya, duduk dan ngeliatin dia yang lagi tiduran.
"Itu yang jadi masalah? Kamu mikir aku bakal minta balasan?"
"Nggak! Aku cuma tau aku nggak bisa beli-beli hadiah seenaknya kaya yang kamu selalu lakuin buat aku."
Aku nghela napas. "Dan aku nggak mau kamu gitu, Ian, aku nggak minta apa pun, aku tau kamu nggak bisa kasih aku," dia punya hati yang besar dan itu yang aku mau, tapi dia mikir dia nggak berharga dan itu cuma nyakitin aku. "Aku punya kemampuan dan kamu nggak, nggak papa kok ngaku Ian. Itu nggak bikin aku kurang cinta sama kamu."
"Terus gimana nanti setelah SMA, pas kita udah di dunia nyata, aku pengen nyediain buat kamu." "Kita bakal kerja dan cuma ada kita berdua."
"Kamu? Kerja?" Dia ngejek. "Emang mungkin?" Dia ketawa.
Aku nepuk bahunya. "Jangan ketawa, aku bisa kerja kalo mau," nggak bisa sih, aku nggak pernah kerja seumur hidup. "Kita bakal baik-baik aja."
"Kok kamu bisa tau?"
Aku tiduran lagi di pelukannya, kali ini hadap-hadapan sama dia. "Karena kamu kuat dan kamu kerja keras buat apa yang kamu mau, lagian aku cenayang," aku bercanda.
Bikin dia senyum. "Aku suka pas kamu senyum," itu bikin aku senyum.
"Kamu bikin aku senyum," kita mendekat satu sama lain, ciuman. Dia ngelus tubuhku pas kita ciuman mesra. Ian tuh pacar yang penuh gairah, kaya dia ngasih segalanya, mastiin dia lakuin hal yang bener. Dia selalu lakuin hal yang bener.
Tangannya mulai nakal. "Nggak bisa," aku coba menjauh, tapi dia narik aku balik. "Ayah kamu ada di luar, dia bakal tau."
"Dia lagi di luar, lagi ngapain gitu, kita aman," aku nyerah dan lanjut ciuman. Aku naik ke atas dia, nindihin dia pas dia tiduran, narik kaosku. Dengan aku di atas, kita ciuman, nggak mau lepas, dia buka kaosku dan aku buka kaosnya, ciuman di lehernya, aku ngambil celananya dan aku buka kancingnya.
Kita sekarang telanjang bulat dan Ian tiduran di belakang aku, siap buat 'ngambil' aku, dia selalu pelan karena takut nyakitin aku. "Kamu nggak bakal nyakitin aku, aku janji," aku ngunci jari kita, cium tangannya pas dia pelan-pelan masukin 'anu' nya ke aku, aku nutup mata dan mulutku kebuka, tapi aku cepet-cepet nutupnya, nggak mau bikin suara. Ian cium tengkukku dan punggungku pas dia pelan-pelan mulai gerak keluar masuk. Ciuman ringannya enak banget kena tubuhku.
Ian mikir dia nggak pantes buat aku, tapi aku tau aku yang nggak pantes buat dia, seseorang kaya dia yang bisa semangat banget sama hal yang dia mau dan lembut karena dia takut nyakitin orang yang dia
cinta. Aku cinta dia lebih dari aku bisa cinta siapa pun, dan meskipun dia benci, aku pengen jagain dia selamanya.