Bab 117
"CFO"
"Dan kenapa kamu nggak jadi CFO?"
"Yah, menurut bosku dan aku kutip, dia cuma nggak yakin aku cukup santai buat jabatan itu, padahal aku kan basically ngerjain kerjaan CFO."
Berjalan sambil megang baki, dia naruh di depanku terus duduk "lupa nambahin kata 'santai' di résumé kamu?"
"Kayaknya sih gitu."
Dia cekikikan "kamu lucu, Julian."
"Makasih" dia duduk di seberangku dan aku bisa lihat matanya bersinar "jadi, aku lagi ngelihat apa nih?" Aku langsung sadar "Ini beberapa pilihan andalanku, jeruk nipis, wortel, cokelat, dan swirl. Coba satu-satu dan kasih tahu aku pendapatmu" Aku butuh waktu buat nyobain semuanya dan dia mandangin nggak sabaran di ujung kursinya. Pas akhirnya selesai, dia nanya "gimana?"
"Ehm, semuanya enak, tapi aku suka yang swirl."
"Itu bagus Julian, tapi ini bukan tentang kamu, maunya cowok itu gimana?" "Nggak tahu, yang swirl."
"Oke, kalau gitu swirl ya!" Dia berdiri kegirangan "ikut aku" kita balik ke konter dan dia berdiri di belakangnya "aku butuh nomor, ukuran kue, dan kapan kamu mau beli."
"Ini kartu namaku" Aku ambil satu dari dompetku dan ngasih ke dia "nomor seluler dan kantor aku ada di sana, kuenya harus cukup besar buat sekitar 80 orang, dan aku bisa ambil Jumat pagi."
Dia nulis semuanya "oke, mantap, aku bisa kok" dia senyum Sambil liat jam tangan "aku harus kerja nih."
"Iya, tentu aja, dan siapa tahu hari ini hari dia bikin kamu jadi CFO."
"Iya, mungkin."
Senyumnya nggak pernah hilang "aku ketemu kamu Jumat pagi Julian."
"Iya" Aku jalan ke pintu terus balik badan, sadar aku lupa sesuatu "eh?" Aku panggil buat minta perhatiannya dan dia ngelihat aku "siapa nama kamu?"
"Aku Chase."
"Ketemu Jumat ya Chase" dia lambaikan tangan dan aku pergi.
—
Setelah rapat, aku buru-buru nyusul bosku keluar dari ruang rapat "Lindon, ada waktu sebentar?" Aku coba ngejar
"Julian, bro, ada apa?"
"Cuma mau tahu apa kamu udah sempat mikirin proposal aku" "Tentang jadi CFO?"
"Iya."
"Iya, aku lagi kerjain kok, bro."
"Oke, kamu tahu kapan kamu bakal kasih jawaban ke aku?"
"Julian" dia berhenti jalan dan balik badan ke aku, megang bahuku, dia natap mataku intens "kamu harus santai, bro, dan kasih aku waktu, semuanya santai kan?"
"Iya, iya, semuanya santai banget" kalau aku harus bilang 'santai' sekali lagi! "Keren" dia lepasin pegangannya "kita udah sampai mana nih buat kue ulang tahunnya Harry?"
"Udah dipesan dan aku bakal dapat Jumat."
"Mantap! Jangan lupa minta tanda tangan kartu ulang tahunnya, semua orang harus tanda tangan."
"Ini- ini emang gini buat semua orang pas ulang tahun?" Aku nanya sambil ngikutin dia ke ruang kerjanya "Tentu aja! Bahkan kamu juga, man, ulang tahunmu kapan lagi?"
"11 Juli."
"Kalau gitu siap-siap Julian! Kita emang gitu di sini, kita rayain orang-orang kita." "Mantap" Aku menghela napas "aku mau pulang, kalau kamu nggak butuh apa-apa lagi."
"Nggak, kamu bebas, nanti ketemu di AM."
"Ketemu di... AM" Aku benci diriku sendiri karena ngomong kayak gini.
Besoknya pas aku lagi duduk di ruang kerjaku, ngecek buku, asistenku nyembulin kepalanya "ada Glazed Buns Bakery di telepon satu buat kamu, ini semacam prank ya? Aku nggak bisa bedain."
Chase? "Eh, nggak, ini bakery yang bikin kuenya Harry."
Dia ketawa "kamu harus banget bilang gitu ke dia, itu pasti bikin dia ngakak" dia keluar nutup pintu.
Natap telepon, aku bertanya-tanya kenapa dia nelpon secepat ini "halo?" Aku jawab "Hai, mister CFO man."
"Hai Chase, semuanya baik-baik aja kan?"
"Iya, mantap kok, aku cuma lupa mau nanya mau tulisan apa di kuenya" "Ehm, Selamat Ulang Tahun Harry aja udah cukup kok."
"Rando punya nama ya?"
"Iya..."
"Oke deh, aku bakal kerjain itu" "Makasih."
"Sebelum kamu pergi, aku juga mau nanya, makanan kesukaanmu apa?"
"Makanan kesukaan aku?"
"Iya, kamu tahu kan, kalau kamu lagi pengen sesuatu yang manis, apa yang pertama kali kamu pikirin?" "Nggak tahu, ehm, toaster strudel."
"Oke, aku bisa kerjain itu" "Apa?"
"Nggak ada! Aku ketemu kamu besok pagi ya."
"Oke deh" kita tutup telepon, itu aneh kan? Maksudnya dia bisa kerjain itu apa ya? "Tukang roti?" Adikku nanya pas kita lagi makan malam "lucu ya?"
"Nggak tahu."
"Dari skala ganteng biasa sampai ganteng banget" "Jelas yang biasa aja."
"Oke, jadi dia lebih muda?"
"Iya, dia mungkin bisa dibilang salah satu cowok di kantor aku, tapi dia nggak kayak mereka" "Dia kayak gimana?"
"Dia banyak... cerita dan lucu, maksudnya aku baru kenal dia sehari dan aku udah tahu banyak tentang dia, dan hari ini dia nelpon kantor aku dan nanya apa makanan kesukaan aku, terus setelah aku kasih tahu kalau itu toaster strudel, dia bilang dia bisa kerjain itu. Aneh kan?"
"Julian, tukang roti nanya kamu apa makanan kesukaanmu, dan kamu kasih tahu dia sesuatu yang bisa kamu panasin di toaster? Kamu itu cewek norak banget."
"Emang pertanyaan yang aneh sih, aku nggak sempat mikir."'Kamu harus ajak dia kencan."
"Kenapa aku harus gitu Leena?"
"Karena dia cowok ganteng yang bisa bikin roti, itu kan impian semua cewek" "Aku nggak bakal ngajak dia kencan, Leena."
"Tentu aja nggak, kamu kuadrat" "Maksudnya apa tuh?"
"Maksudnya kamu nggak tahu gimana caranya hidup, maksudnya kamu bilang cowok itu sering senyum ke kamu, nanya-nanya tentang hidupmu dan mau tahu apa makanan kesukaanmu. Kalau itu bukan tanda, aku nggak tahu lagi deh."
"Semuanya itu tanda buat kamu, dulu ada cowok mesen sandwich yang sama kayak kamu dan kamu pacaran sama dia" "Itu takdir! Oke?"
"Apa itu juga takdir pas kamu biarin dia masuk ke tempatmu dan dia ngerampok kamu?" "Jangan bahas masa lalu! Ajak cowok ini kencan atau kamu bakal nyesel."
"Aku pikirin deh."