Bab 50
"Iya Charlie, bisa kerja di kasus hukum beneran sebelum kuliah hukum itu hebat banget," kata gue dengan nada, dan dia natap gue. Sambil menghela napas, gue minta maaf, "Maaf ya, cuma gue udah kerja keras dari pertama kali gue di sini, tapi dia dapet semuanya. Dia ketua perkumpulan kehormatan kita, dia mutusin pengen jadi pra-hukum tahun lalu dan entah gimana hebat di bidang itu padahal itu jurusan gue dari dulu, bahkan dia duluan yang dapet lo. Gue gak tau lagi seberapa banyak yang bisa gue tanggung."
"Lo selalu aja biarin Axl bikin lo kesel, siapa peduli sama apa yang dia punya? Gak ada satupun dari omong kosong itu yang ada hubungannya sama lo, oke? Jadi fokus aja sama urusan lo sendiri."
"Gak semudah itu, Charlie."
"Karena lo gak biarin jadi gampang, lo selalu keras sama diri lo sendiri biar jadi yang terbaik padahal kenyataannya gak ada yang penting-"
"Yang gue mau gak penting gitu?"
"Enggak- maksud gue iya penting, tapi lo gak pernah biarin diri lo nikmatin apa yang lo lakuin gara-gara sialan Axl.
Dia itu sampah, oke? Lo lebih baik dari dia." Gue gak bilang apa-apa, dan dia nambahin, "dan dia gak pernah dapet gue, oke, itu cuma kencan buta. Lo punya gue, oke?" Gue ngangguk. "Oke, sekarang makan makanan lo sebelum gue makan buat lo," dia senyum, dan gue gak bisa gak ikut senyum juga. Kita hampir selesai makan, dan Charlie ngeluarin hapenya trus mengeluh, ngejatuhinnya di meja, "Boleh pinjem hapenya?"
"Boleh," Gue ngambil dari saku, ngasih ke dia, "Hape lo kenapa?"
"Baterenya rusak, bahkan kalo gue ngecasnya, barang rongsok itu mati cuma 20 menit kemudian." "Mungkin udah waktunya buat yang baru."
"Iya mungkin," dia setuju.
Iya... mungkin, pikir gue dapet ide.
—
Beberapa hari kemudian, gue bangun di samping Charlie yang lagi tidur pulas. Nerapin ide gue di belakang dia, gue mikir ini waktu yang pas buat kasih kejutan ke dia.
Turun dari kasur, gue ngendap-ngendap keluar kamar, ngambil kotak dari tas gue dan balik lagi. Sementara Charlie masih tidur nyenyak telentang, gue naikin dia, nindihin pinggangnya, bikin dia mulai kebangun. Matanya masih merem, jadi gue mutusin buat mendekat ke telinganya, berbisik, "Bangun," gak ada reaksi, jadi gue maju selangkah lagi dan mulai nyium wajah dan lehernya, bikin dia mengerang. "Charlie, gue punya kejutan buat lo," akhirnya dia mulai buka mata, dan gue duduk tegak.
"Ini lo pake hoodie gue?" tanya Charlie dengan suara seraknya di pagi hari yang gue rasa memikat. Sambil senyum, gue geleng, ngejawab, "Enggak, tapi tutup mata lo."
"Oke, suruh gue buka mata cuma buat nyuruh gue nutup lagi," dia komplain sambil ngelakuin persis yang gue minta, "Apa yang terjadi?"
Ngambil kotak, gue sodorin, "Sekarang lo bisa buka," dia ngelakuinnya dengan senyum senang di wajah gue, lalu matanya pindah ke benda di tangan gue. "Lo bilang akhir-akhir ini kalo hape lo jelek banget, trus layarnya retak kemarin jadi-"
"Jadi lo beliin gue iPhone?" Dia memotong pembicaraan gue, ngambil kotak dari gue. "Ini yang baru, sama semua kamera."
"Oh," Charlie merhatiin kotak itu gak mau repot-repot buat bukanya, "Makasih, tapi gue gak butuh hape baru," dia ngasih balik, "Gue suka yang punya gue."
"Enggak, lo gak suka," Turun dari dia, gue lanjutin, "Waktu kita masuk semalem, lo ngelemparnya ke lantai karena rusak." Pergi ke ruang tamu, gue ambil hapenya. "Bener-bener masih di tempat lo ngelemparnya," Balik lagi gue tunjukin hape retak itu, "Apa alasan sebenernya lo gak mau hape itu?"
Duduk, dia menghela napas, "Gue gak mau, oke? Kalo gue siap buat hape baru, gue bakal beli, sampe saat itu, gue oke sama yang jelek ini." Nunggu dia ngaku gak mau hape itu karena gue yang beli itu sia-sia, karena gue tau dia gak bakal pernah mau.
"Gue tau karena gue yang beli," Charlie mengejek, dan gue liatin dia turun dari kasur, jalan ke gue dan ngambil hapenya dari tangan gue, "Gue bener, Charlie, lo tau gue bener."
Lewatin gue, dia pergi ke kamar mandi, "Gue tau lo keliatan hot gak pake celana," dia ngejawab sambil senyum.
Dia mulai sikat gigi, dan gue masuk ke kamar mandi, "Kalo gue mikir lo butuh hape baru, gue gak bisa beliin buat lo?"
"Adrian, berenti bersikap kayak lo gak pernah beliin gue apa-apa," katanya di sela-sela sikat gigi.
"Iya, burrito dan bir-" "Dua hal kesukaan gue!"
"Oke," gue ninggalin kamar mandi kesal.
Cepat selesai, Charlie menyusul gue, "Tunggu, tunggu," dia pegang pinggul gue sebelum gue naik ke kasur, "Lo gak perlu beliin gue apa-apa, oke?"
Meraih ke belakang, dia pegang pantat gue, "Dapet bokong tiap hari udah cukup," "Charlie," gue dorong dia pas dia ketawa.
"Oke, gue minta maaf," dia mencoba berhenti, "Hadiah lo itu perhatian, tapi gak perlu banget, oke?" "Iya"
"Lo mau cium gue atau terus cemberut kayak bayi?" Nyium bibirnya, gue rebahan, "Ayo dong," dia tertawa kecil pas gue natapnya dengan sengit, "Gue baik banget di sini, kasih sesuatu."
Balik badan biar gak liatin mukanya lagi, gue rebahan telungkup, lalu gue denger dia bilang
"Oke, gue ambil." Merasa tangannya megang pantat gue, dia naik ke kasur, mendekat, narik hoodie ke atas, gue rasa bibir Charlie menanamkan ciuman di punggung gue pas dia bergerak ke bawah.
Ngelepas tangannya dari gue, gue turun dari kasur, "Gue harus pergi, gue telat" "Telat buat apa, ini kan Sabtu?" Dia nanya bingung pas gue pake celana, "Gue telat buat ada di tempat lain selain di sini."
Nyoba sekuat tenaga buat gak ketawa, Charlie ngikutin gue keluar kamar, "Tunggu Adrian, lo beneran marah sama gue?"