Bab 91
Forrest
"Lo mutusin gue?" Gue duduk sambil nanya ke dia waktu dia lagi pake baju "setelah kita baru aja ngeseks?" "Maaf, Bevin-"
"Nggak, lo nggak minta maaf" Gue bangun, pake celana dalem gue, "Gue kira kita baik-baik aja."
"Kita baik-baik aja, tapi semuanya berubah, lo tahu kan?" Gue pengennya tahu, mungkin dia nggak bakal mutusin gue "Ini nggak pernah serius, inget? Kita cuma ngeseks doang, tapi minggu lalu lo pengen serius dan lain-lain. Gue belum siap buat itu."
"Oke, jadi kita nggak harus serius, gue oke sama sistem temen ngeseks kita. Kenapa kita nggak bisa lanjut kayak gitu?"
"Karena" Dia nyari sepatunya "antara sekolah dan kerja, gue nggak punya waktu, dan gue tahu lo juga nggak."
"Gue bisa bikin waktu, Bevin, lo juga bisa coba" Memohon sama dia kayaknya nggak ada gunanya sekarang.
"Nggak bakal berhasil, Forrest, gue minta maaf" Dia ngambil tasnya "Nanti ketemu lagi, oke?" Jalan ke pintu kamar gue, dia buka pintu itu dan pergi.
Gue ngikutin dia lewat apartemen gue sampe dia keluar pintu depan, dan gue cuma ditinggal pake celana dalem. Itu yang gue dapat karena bilang ke cewek gue suka sama dia setelah 8 bulan cuma ngeseks doang, makasih Tinder!
"Ada lagi yang mati?" Gue noleh dan nemuin temen sekamar gue lagi makan sereal di meja dapur "Hilangin senyum dari muka lo" Gue memutar mata, lalu pergi.
Nggak ada yang mau punya hubungan di kampus, entah lo dateng kesini udah punya hubungan, atau lo ngeseks sama banyak orang sampe lo lulus. Udah 2 tahun kayak gini, dan gue kayaknya nggak bisa bikin satu cewek bertahan, kenapa susah banget buat percaya kalau ada cowok yang beneran mau hubungan? Kadang-kadang kesepian, lo tahu?
Nah, karena malam Jumat gue resmi hancur, gue pake celana olahraga dan balik lagi ke dapur "Birnya mana aja?" Gue buka kulkas, bener-bener butuh satu.
"Lo udah habisin semuanya, inget?"
"Iya, dan lo bilang lo bakal beli lagi" Gue noleh ke Nash
"Itu waktu itu, yang berarti lo udah habisin semua yang gue beli, sekarang giliran lo yang beli."
Huuuh "Terserah deh" Gue nutup kulkas.
"Kenapa sih lo?" Noleh ke dia, gue natap dia sambil terus-terusan nyuap sereal ke mulutnya.
"Bevin mutusin gue" Gue bersandar ke kulkas "Satu menit kita lagi ngeseks, dan menit berikutnya dia bilang kita terlalu cepet, padahal kita udah main-main selama berbulan-bulan."
"Dan hati lo hancur karena lo suka sama dia?"
Mikirin pertanyaannya, gue jawab "Gue nggak suka sama dia, tapi gue suka dia, nggak gampang nemuin orang lain yang setuju sama apa yang kita punya."
"Forrest, lo ketemu dia di Tinder, lo cowok yang menarik, lo bakal nemuin orang lain" Gue oke-oke aja kan kalau temen sekamar gue yang gay bilang gue menarik?
"Biarin Bevin pergi" Dia jalan, naro mangkoknya di wastafel "Namanya Bevin."
"Namanya bodoh" Dia senyum "Nggak ada nama couple disana, kayak Nest atau Forash" dia keluar dari
dapur. "Sebenernya, sekarang setelah gue bilang, kedengarannya bodoh banget" Dia cekikikan terus menghilang ke lorong.
Hubungan gue sama Nash sederhana aja, dia cerita ke gue begitu kita ketemu pas hari pindahan. Gue nggak ada masalah sama dia, tapi dia tahu gue nggak pernah bener-bener kena sama apa yang dia biasa lakuin, jadi kalau dia punya cowok dateng yang nggak sering, dia rahasiain.
Dia rahasiain di kamarnya, dan kita cuma urusin urusan kita kalau soal kehidupan pribadi, kecuali kita bawa satu sama lain ke dalamnya.
Bevin seharian penuh nggak balesin teks gue, gila ya, dia bisa buang gue semudah itu, dan gue ngabisin seluruh akhir pekan mikirin dia. Gue harus lupain Bevin. Setelah kelas, gue putusin buat pergi ke gym buat buang rasa kesel "Forrest"
"Ada apa, Dylan?" Dia nyamperin gue waktu gue lagi latihan punggung "Nggak ada apa-apa, bro, lo udah baca teks gue minggu lalu?"
"Soal gabung frat lo?"
"Iya, bro! Minggu perekrutan tinggal 2 hari lagi, dan kita butuh cowok"
"Gue oke, bro, nggak lagi nyari buat gabung frat sekarang" Gue berhenti di mesin.
"Kenapa sih? Theta Phi bikin pesta paling keren, lo tahu itu, dan cewek Nu Gamma tinggal persis di sebelah, bro!" Dia berusaha ngejual fratnya ke gue.
"Dylan, gue nggak punya 3 ribu dolar buat gabung frat, oke? Gue yakin grup lo keren, tapi gue nggak tertarik."
"Oke, bro, lo rugi" "Kalau lo bilang gitu."
"Nanti, bro" Dia pergi, dan gue mendengus, persaudaraan Dylan beneran yang paling buruk di kampus, dan tahun lalu
rumah mereka kebakaran, kenapa sih gue mau pindah kesana?
Pulang dari latihan, gue buka pintu, masuk, dan nemuin seseorang berdiri di balik pintu, meraih kenopnya, "Oh, maaf" Gue berhenti.
"Santai aja" Dia keluar dan pergi.
Beberapa detik kemudian, gue lihat Nash keluar kamar mandi, jalan ke kamarnya "Hei" Dia nggak repot-repot liat gue.
"Hei" Gue balas, masuk, lupa apa yang baru aja terjadi, gue ke kamar, nyetel musik keras-keras, dan ngerjain PR.