Bab 137
Jesse
"Resmi sudah, dunia ini benci gue!" Gue masuk ke tempat temen gue, tempat Shia, dengan muka kesel banget. "Kenapa?" Dia teriak dari kamar mandinya di kamarnya pas gue jatohin diri di kasurnya.
"Gue dapet C bodoh di tugas akhir psikologi gue, partner bego gue Jen gak dateng buat presentasi hari ini, dan gue dapet tilang karena gue telat dua menit bodoh buat isi ulang parkir bodoh!" Hidup gue beneran nyebelin. "Parah, man!" "Ya iyalah!" Gue nyerah.
Keluar dari kamar mandinya, "Gue baca ulang makalah lo, bagus kok."
"Gak cukup bagus buat Nyonya Bagofdicks!" Gue duduk tegak. "Dan ini seharusnya bikin gue bebas dari tilang parkir, kan?" Gue nunjuk muka gue. "Gue jelek, ya?"
Shia ketawa ngeliat penderitaan gue. "Lo konyol."
"Gue butuh minum," gue narik napas terus rebahan. "Enggak, lo tau apa yang lo butuhin?"
"Dua minuman?"
"Seks! Seks yang bener-bener enak buat ngilangin kesel lo!"
Gue langsung duduk. "Gue suka cara lo mikir!" Gue ngeluarin hape dari saku, mulai geser-geser kontak. "Oke, siapa yang bisa gue SMS... model underwear Dean?" "Dia tukang nangis, inget?"
"Oh iya... ummm... Josh dari kelas nge-spin kita?" "Dia udah punya anak."
"Anak-anak itu yang paling parah!" Gue terus geser. "Gak ada! Gak ada siapa-siapa!" Gue nyampe di huruf Z. "Tunggu, ada, gimana Jesse?"
"Artis dari dua minggu lalu itu?"
"Iya! Cowok itu beneran hot! Lo harus SMS dia." "Gak! Terlalu cepet."
"Kalian minum-minum dua minggu lalu! Dan lo gak ngebales satu pun SMS dia sejak itu, gue gak bakal ngacangin cowok se-hot itu."
"Tapi kencan itu canggung banget, gue cerita tentang kucing gue terus dan dia pergi 30 menit lebih awal."
"Ya karena lo cerita tentang kucing lo terus!" Gue cinta banget sama kucing itu. "Dan lo cuma gitu kalo lo gugup, dia bikin lo gugup."
"Tentu aja! Lo udah liat seberapa gantengnya dia?" "Ya udah, SMS dia, bodoh!"
Dengan enggan. "Gimana kalo dia gak bales? Atau dia bilang enggak?"
Ngambil hape dari tangan gue, dia nge-SMS dia dan balikin lagi ke gue. "Tuh."
"Ya Tuhan, apa yang lo bilang?!" Gue baca cepet SMS-nya, "halus." Naro hape gue, gue bangun dari kasur. "Kita harus gimana sekarang?"
"Kita tunggu."
Gue ketemu Jesse sebulan lalu di pameran seninya, temen kita ngajak Shia dan gue. Kita ngobrol dan gak ada rahasia lagi betapa gantengnya dia, dan dia baik banget, setelah pameran dia ngajak gue minum. Tentu aja gue bilang iya, tapi kita pergi dan gue bener-bener ngacau dan sejak itu gue ngindar dari dia.
Hape gue geter dan gue cepet ambil. "Itu dia? Dia bales apa?" "Hai orang asing." Gue baca SMS-nya. "Gue harus bales apa?"
"Tanya dia lagi ngapain?" Gue SMS balik, lagi ngapain?
Gue pengen banget seks panas sama cowok itu malam ini.
Dia bales lagi ngerjain karya seni yang harus selesai malam ini. Kamu? Wah... Gue gak ngapa-ngapain, cuma lagi sialan seharian.
Dia bales hampir instan :( Gue minta maaf, mau dateng ke studionya dan bantu gue nyelesaiin karya gue? Mungkin bikin kamu merasa lebih baik.
"Ya Tuhan, dia ngajak gue kencan!" Gue baca SMS-nya.
"Apa? Udah?!" Dia deketin gue, baca layarnya pas gue pegang hape. "Sialan, dia mau bokong itu," katanya pas gue bales, apa lo yakin?
Gue orang yang paling gak punya bakat seni yang gue tau.
"Gimana kalo gue seks sama dia?" Gue balik ke Shia buat validasi pikiran kotor yang ada di kepala gue.
"Gak! Lebih parah kalo enggak!"
Hape gue geter di tangan gue dan gue liat kebawah, gue ambil kesempatan itu pake emoji ngedip. "Emoji ngedip!" Gue tunjukin ke Shia. "Itu kode gue, kan?"
"Iya!"
Oke, tapi inget lo yang minta. Alamatnya di mana? Dan - "Udah malem, gue harus bawa makan malam, kan?" "Kalo lo bawa makan malam dan sebotol anggur, berarti bener-bener kencan."
"Tapi gue benci anggur," gue manyun. "Bikin gue aneh."
"Itu namanya mabok, Leo. Beli bir aja deh."
"Oke deh" - udah malem, gak papa gue beliin kita makan malam dan bir? Gue selesain SMS-nya dan kirim.
"Sama sekali gak papa. Gue laper banget." Diikuti SMS alamatnya. "Gue mau pulang dulu dan segerin diri, terus ketemu dia."
"Semoga sukses, banyak-banyak seks ya."
"Makasih dan iya."" Gue keluar dari kamarnya.
—
Ngambil pizza dan enam kaleng bir setelah gue parkir mobil, gue nunggu dia turun. Gue harap gue keliatan bagus, gue udah bersihin kekotoran hari ini dari hidup gue, gue cuma pengen seneng-seneng sama Jesse malam ini.
"Hai," dia buka pintu.
"Hai," gue senyum. "Maaf gue telat, pizza-nya lama banget."
"Gak papa, masuk aja." Gue masuk. "Kita naik lift ke lantai enam." "Karya lo gimana?" Gue tanya pas kita nunggu lift.
"Bagus, tinggal tambahin beberapa sentuhan akhir."
"Oke." Akhirnya nyampe di studionya, gue nemu meja terdekat dan naro makanannya.
"Gue cariin piring dulu," dia pergi dan gue ngeluarin hape, SMS Shia. "Sejauh ini canggung banget. Apa yang terjadi?"
Gak ada apa-apa, gue baru sampe sini, dia lagi ambil piring. Jangan khawatir, have fun aja."