Bab 77
Gak ada yang lebih parah dari patah hati dari cowok yang… ya, lo hampir cinta mati sama dia, bikin dunia kayak mau kiamat. Kenapa ciuman yang gak berarti apa-apa, rasanya enak banget?
"Daripada anak remaja lo pada ngumpul di sofa, kenapa gak keluar nikmatin hidup?" Ayah masuk ke ruang keluarga, nemuin Garret lagi manyun di sofa sambil nonton kartun.
"Berasa lo punya satu aja."
"Ada apa nih sama lo, Bro?" Ayahnya Garret duduk di kakinya. Sambil menghela napas, dia jawab, "Gak ada apa-apa."
"Oke deh, gue cerita masalah gue aja ya. Nyokap lo naruh celana dalemnya di laci gue. Maksudnya, apa gue mau BH dia nyentuh kaos kaki gue?" Dia noleh ke Garret yang lagi muter mata. "Gak mau! Tapi amit-amit deh gue ngomong-"
"Udah deh, Ayah!" Garret duduk. "Gue cerita, asal Ayah berhenti ngomong." Craig berhenti dan Garret duduk ngadep dia, tau Harper gak ada di rumah bikin apa yang mau dia omongin lebih gampang. "Malam itu di pesta Porter, gue kayaknya nyelamatin dia dari tenggelam, terus sebagai ucapan terima kasih, dia nyium gue."
Garret ngaku.
"Pacarnya Harper, Porter, nyium lo?"
Garret noleh, "Dia bukan- lo mikir Porter pacar Harper?" Craig mengangkat bahu. "Porter gay, Yah!" "Oh, bagus dong, kan? Lo gay, dia gay, gak ada yang salah dengan..." dia gerakan jari telunjuknya buat nyentuh.
"Itu maksudnya kita-"
"Ciuman, iya." Dia berhenti. "Terus, masalahnya apa?"
Garret menghela napas, mulai ke bagian yang susah. "Harper bakal kaget banget kalo dia tau gue naksir sahabatnya, dan Porter punya pacar bego yang bawa dia ke Italia pas musim panas." Garret sedih, ngeliatin pangkuannya. "Dan gue gak bisa bersaing."
"Gak bisa." Craig jawab. "Gue yang pegang rekening lo, jadi gue tau, isinya cuma sepuluh dolar." Garret ngeliat ke ayahnya. "Lo bahkan gak mampu ajak dia-" Craig noleh, ngeliat Garret lagi ngomelin dia.
"Udah selesai?" Dia senyum, ngangguk. "Gue gak tau harus gimana, Yah. Gue gak bisa berhenti mikirin ciuman itu, tapi gue tau gue harus ngelepas Porter, karena bagi dia ciuman itu gak berarti apa-apa. Tapi gue gak bisa ngerti kenapa dia lakuin itu, kenapa dia nyium gue? Seolah-olah dia tau gue suka dia, dan pengen mancing gue kayak ikan, cuma buat dilempar lagi."
"Tanya aja," saran Craig. "Gak bisa, gue-"
"Bisa! Dan lo punya hak buat nanya, dia nyium lo, jadi dia harus jelasin, dan kalo lo gak nanya, lo bakal terus mikirin sendiri."
"Lo bener!" Garret setuju.
"Gue tau! Anak-anak lo mikir cuma Ibu yang punya saran di rumah ini, gue juga pinter, ya ampun." Craig berdiri. "Sekarang gue mau cari cara dewasa buat minta nyokap lo gak naruh celana dalemnya di laci gue." Dia pergi, ninggalin Garret sendiri di ruang keluarga.
Mikirin saran ayahnya, Garret duduk di kasurnya pagi berikutnya, kakinya nepuk-nepuk gak sabaran nunggu Porter jemput Harper.
Dia gak yakin apa yang bakal dia omongin, tapi harus bagus. Dia harus tau apa yang dipikirin Porter, dan kenapa ciuman itu terasa bener malam itu.
"Makasih, Nyonya Philbin, tapi gue udah makan." Garret denger Porter naik tangga. Pas Porter sampe di antara pintu Garret dan pintu saudaranya, sebelum Porter masuk, Garret narik dia masuk kamarnya, nutup pintu. "Wah," reaksi Porter. "Selamat pagi juga," Garret berdiri di depannya, kaku banget, mikirnya ini selalu terjadi. Usaha keras buat gak nunjukin seberapa kagetnya dia, Garret noleh dan mulai mondar-mandir, kelakuan yang dia pikir bakal bikin apa yang baru aja terjadi jadi normal, tapi nyatanya cuma bikin Porter makin bingung. "Ehm, kalo ini lo mau culik gue, lo gagal total sejauh ini."
Porter senyum.
"Berisik banget," Garret akhirnya ngomong pelan.
"Oke deh." Porter ikutin nada bicaranya. "Ada alasan lo narik gue ke kamar lo?"
Menghela napas dalam-dalam. "Gue suka sama lo, udah lama, perasaan gue ke lo yang bikin gue keluar, dan Harper tau, tapi maksa gue gak ngomong apa-apa. Gue udah suka sama lo bahkan sebelum lo sama Elia, dan lo gak tau apa-apa soal ini, tapi malam pesta lo, entah kenapa gue gak ngerti, lo nyium gue, kenapa?" Garret mikir pertanyaan 'kenapa lo nyium gue' aja udah cukup, tapi semua itu keluar gitu aja, bahkan dia sendiri gak nyangka bakal gitu.
Porter kaget, paling gak itu yang bisa dibilang, gak ada yang dia duga Garret bakal ngomong gitu, tapi dia bisa rasain semua itu bener, dan itu bikin dia ngerasa-
"Gue bego." Dia natap Garret, tapi sebelum dia bisa lanjut, teleponnya bunyi.
Pintu kamar Garret kebuka, masuklah Harper yang denger nada deringnya karena lagi nelpon sahabatnya. "Ehm, apa-apaan sih?" Dia matiin telepon.
"Kalian ngapain?" Harper jalan di antara mereka sambil mata mereka saling menatap. "Gak ada apa-apa." Garret pergi, ngambil tasnya, ninggalin mereka di kamarnya.
Nyupir ke sekolah, dia coba ngikutin rutinitas paginya dan berusaha keras buat gak bereaksi dengan cara apapun sama apa yang baru aja dia lakuin. Garret capek ngebiarin ini gangguin pikirannya, dan Porter bahkan gak bisa ngasih jawaban yang jelas, jadi kenapa dia harus peduli kalo Porter gak peduli?
"Untung lo dateng!" Alexis nyamperin dia begitu dia masuk ruang A/V. "Reggie telat dan dia butuh orang buat gantiin jadi *anchor* pagi ini karena dia ada janji dokter."
"Kenapa lo gak bisa?" Garret nanya, naruh barang-barangnya.
"Karena giliran gue minggu depan, dan lo cuma harus ngelakuin hari ini. Tolong, Garret."
Menghela napas. "Terserah deh," dia ambil papan tulis dari dia, ada daftar buat mastiin semuanya siap sebelum mereka mulai.