Bab 148
Harris
"Tan, lo ngapain di sini?" Harris buka pintunya, nggak pake baju. Nggak nyangka ada yang dateng. "Mereka berantem lagi," Tan masuk, ninggalin Harris di depan pintu.
Nutup pintu, Harris noleh ke Tan, ngerasa canggung. "Oke, gue pake baju dulu deh."
"Nggak usah gitu juga kali," Tan nyengir.
Terus Harris ketawa gugup. "Gue balik lagi ya," terus pergi.
"Apartemennya bersih banget!" kata Tan sambil ngelempar tasnya dan buka jaketnya.
"Makasih! Akhirnya gue nyewa pembantu!" jawab Harris dari ruangan lain. Abis pake baju, dia keluar dan nemuin Tan lagi duduk di sofa sambil nge-chat. "Jadi, kali ini kenapa?" Harris berhenti di deket sofa, jaga jarak sama Tan.
Naro hapenya, dia nghela napas. "Gue nggak tahu. Gue pulang sekolah, mereka udah mulai ribut. Mereka bahkan nggak ngehirauin gue, awalnya sih seru, tapi lama-lama jadi serius, jadi gue harus kabur dari sana."
"Terus lo ke sini, gitu?"
"Gue selalu cerita sama lo kalau mereka berantem," Tan bangun, ngadepin Harris. "Lo bikin gue merasa lebih baik."
"Iya, kalau kita lagi di kantor dan Ayah lo, bos gue, nyuruh gue nemenin lo. Tapi sekarang lo di rumah gue, bawa tas. Ini beda."
"Nggak kok," Tan maju, Harris nggak nyaman mundur. "Gue naik bis sama dua kereta buat ke sini, Harry."
"Gue tahu, dan gue minta maaf lo harus gitu. Tapi gue nggak bisa biarin lo nginep di sini. Ayah lo nggak bakal suka. Biar gue anterin lo pulang, setidaknya gue tahu lo aman."
"Emang gue nggak aman di sini sama lo?" Biar gue jelasin kenapa jawabannya nggak manis dan nggak mikirin, Harris, yang kerja buat Ayah Tan, sering banget sama Tan karena Tan suka banget nongkrong di kantor ayahnya. Tan emang menarik, dan dia tahu itu. Tan juga tahu gimana caranya dapetin yang dia mau, dan dia mau Harris. Itu nggak bakal jadi masalah kalau Harris bukan pengacara umur 31 tahun yang kerja buat Ayah Tan, seorang jaksa, dan juga fakta bahwa Harris beneran mau dia juga.
Ketertarikan di antara mereka nggak diomongin, tapi kelihatan banget. Tan bikin Harris gugup, dan kalau Harris di dekat dia, susah buat nggak ngehirauin gombalan dan sentuhan kecil Tan. "Tentu aja lo aman sama gue, tapi bukan itu masalahnya, Tan. Nggak ada penjelasan masuk akal kenapa lo bisa di sini."
"Gimana kalau orang tua gue nggak tahu kalau gue ada, dan lo satu-satunya orang yang ngerti gue?"
"Gue seneng bantuin lo kapan aja, Tan.""Nggak di sini aja, gitu?"
"Tepatnya. Sekarang, gue anterin lo pulang, ya?" Harris balik badan mau ambil kunci mobilnya.
"Tunggu," dia ngerasa tangannya di antara tangan Tan. "Lo beneran nggak mau gue di sini?"
Balik badan, jantungnya berdebar kencang saat tangannya digenggam erat sama Tan. "Nggak, bukan itu... ini bukan... cuma nggak..." kalimatnya kepotong.
"Ide yang bagus?" Harris ngangguk. Tan ngelepas genggamannya. "Kenapa nggak, Harry? Lo kan temen gue, ya?" Tan berhenti ngomong dan nunggu persetujuan Harris, dan Harris ngangguk. "Dan temen saling bantu kalau lagi susah. Gue butuh lo," Tan sedih. "Gue nggak bisa balik ke sana. Mereka teriak-teriak, Ibu gue mulai ngelempar barang, dan gue kena.
Yang paling parah, mereka nggak berhenti buat liat gue baik-baik aja. Gue nggak baik-baik aja," ngangkat bajunya, Tan nunjukin tanda di pinggulnya ke Harris. "Itu remote."
Harris ngerasa nggak enak, natap memar Tan, pengen banget nyentuh. "Gue minta maaf, Tan, gue nggak tahu separah itu."
"Emang selalu separah itu, tapi gue nggak pernah masalah ngadepinnya," Tan ngelempar diri ke sofa.
"Sampai sekarang?" Harris duduk di meja kopi di depannya biar nggak harus duduk terlalu deket di sampingnya.
"Sekarang gue nggak tahu mau balik... kapan pun."
Nghela napas. "Oke deh, lo boleh nginep malam ini dan gue anterin ke sekolah besok pagi," Tan senyum. "Tapi gue mau ngomong sama Ayah lo pas gue udah kerja. Lo jauh lebih penting dari apa pun yang mereka ributin," Tan duduk, mendekat ke Harris, lutut mereka bersentuhan, dan Harris ngerasa tubuhnya tegang. "Lo udah makan belum? Gue bisa buatin makan malam," dia buru-buru loncat dari meja kopi.
"Boleh," Tan senyum sambil merhatiin Harris lari ke dapur.
Buka sweaternya, Tan jadi nyaman pake kaosnya dan jalan ke dapur. "Mau makan apa?" Harris nanya sambil ngambil bahan dari kulkas.
"Umm, lo bisa bikin apa?" Tan berdiri di samping meja, merhatiin. "Gue bisa bikin pasta, atau ayam?"
"Ayam kedengarannya enak," Tan merhatiin Harris dari atas ke bawah saat dia nunduk di kulkas. "Ayam deh."
Harris lagi masak dan Tan ngasih dia ruang, merhatiin dari sisi lain dapur, dia nggak bisa
nahan buat nggak nyengir ngelihat Harris yang ganteng lagi masak buat dia. "Gue bisa bantu kalau mau," "Iya, boleh," Tan jalan lebih deket dan Harris ngasih dia pisau. "Lo bisa potong paprika ini," Tan mulai motong. "Jadi, lo tinggal di sini sendirian?"
"Iya."
"Dan kenapa lo jomblo lagi?" Harris berusaha nggak ngehirauin pertanyaan itu. "Maksud gue, lo kan pengacara, yang masak buat orang lain di dapur yang bagus ini, dan gue udah lihat lo pake jas," berenti dari apa yang dia lakuin, Tan noleh ke Harris, natap dia, Harris ngerasa seakan Tan buka bajunya pake matanya.
"Udah selesai potongnya?" Harris ganti topik.
Ngelempar pisau, Tan mendekat ke Harris, berusaha nggak nunjukin betapa gugupnya dia, Harris nahan napas. "Gue bikin lo gugup, Harry?"
Tan nanya, tahu jawabannya selalu iya. "Kayak makin deket gue sama lo..." Tan ngulurin tangannya perlahan, mau nyentuh Harris. "Makin tegang yang bisa gue rasain secara fisik lo jadi.""