Bab 27
...Gak peduli apapun yang aku lakuin kayaknya gak ada yang berhasil," aku mengakhiri ocehanku yang panjang dan ngos-ngosan ke Pen lewat FaceTime. "Wah, dia brengsek banget," dia menggelengkan kepalanya sambil memasang muka, "Kan udah aku bilang buat biarin aja, Shane. Aku udah tau dia bakal aneh."
"Gak nyangka dia bakal gitu, aku gak pantas diperlakuin dingin kayak gini."
"Sialan Gentry, gak, lo gak pantas. Aku benci cowok straight yang mikir mereka bisa ambil apa aja yang mereka mau, dan gak pernah mau terima konsekuensi dari
tindakan bodoh mereka!"
"Seharusnya aku dengerin kamu aja," aku menghela napas, masuk ke asramaku setelah kelas terakhir, menjatuhkan semua barangku terus jalan ke kasur, dan langsung jatuh di atasnya. "Kasih tau aku harus gimana."
"Main aja di pertandingan hari Rabu, jangan mikirin Gentry, fokus aja ke baseball, atau dia bakal ngerusak itu buat lo. Jangan biarin dia ngerusak baseball lo, Shane."
"Enggak, aku tau kok, aku gak bakal biarin," aku menggelengkan kepala. "Tapi gimana sama edit foto? Aku gak bisa lepas itu."
"Ganti tempat duduk, Shane, semudah itu, pura-pura aja dia gak ada, dan lama-lama lo gak bakal sadar dia ada di situ." Kayak bakal gampang aja, aku satu tim sama si brengsek itu.
Pas jalan ke kelas edit foto, aku masuk kelas dan nemuin Gentry udah ada di meja kita, lagi main hp, sial, padahal aku pengen meja itu, ya udah aku biarin aja dia, terus jalan ke sudut, ke meja kosong dan duduk di situ.
Kelasnya panjang dan nyiksa, tapi akhirnya selesai juga, ngambil barang-barangku terus buru-buru keluar sebelum Gentry sempat bergerak. Susah banget buat gak ngeliatin dia, tapi aku udah usaha semaksimal mungkin, pas momen-momen aku gak kuat, aku liat dia malah ngeliatin hal lain selain aku. Kenapa aku harus peduli sih? Dia jelas gak peduli.
Baseball, itu alasannya.
Kalo Gentry terus-terusan brengsek, kita bakal kena bangku cadangan di pertandingan hari ini, dan aku gak bakal biarin bajingan itu ngerusak kesempatan aku. Aku pernah gak dianggap di SMA karena aku gay dan pengen main, sekarang pelatih ngasih aku kesempatan, dan Gentry berusaha banget buat merebutnya dari aku. Sialan! Aku tau gimana caranya membela diri, jadi ya jelas aku gak bakal mundur buat ngomongin dia.
"Denger," aku jalan ke dia waktu dia lagi ganti baju di lokernya, Gentry menghela napas waktu aku berdiri di sampingnya, "Aku gak peduli lo ada masalah apa sama aku, atau apa yang udah aku lakuin ke lo, tapi kalo lo terus-terusan kayak orang brengsek, pelatih bakal nge-bangku-in kita berdua—"
"Jangan ganggu aku, Shane."
"Aku gak mau kena bangku cadangan gara-gara lo!" aku berteriak, bikin ruang ganti jadi hening, semua cowok ngeliatin kita dan aku bisa liat Gentry agak gugup. "Kalo lo terus-terusan gangguin aku dan aku kalah karena lo, aku bakal ngerusak hidup lo juga, jangan coba-coba!".
"Main aja, udah, gak bakal terjadi apa-apa, semudah itu," dia bilang, menghindari semua peringatan yang udah aku kasih.
"Berhenti gangguin aku, oke?" Gak jawab apa-apa, Gentry cuma berdiri di situ sambil kita saling tatap tajam sampai pelatih masuk.
"Ada apa nih?" dia nanya, dan semua orang balik ganti baju, tapi aku terus natap Gentry. "Visser, ganti baju."
"Siap, pelatih," akhirnya aku buang muka terus jalan ke lokerku.
Waktu dia nutup lokernya, aku denger salah satu cowok nanya Gentry, "Ada apa sih, bro? Lo beneran homofobia sama dia? Udah tahun 2020, McAllen."
"Urus aja urusan lo sendiri, Kevin," Gentry membentak sebelum mengeluh dan keluar dari ruang ganti.
Dia gak bohong, pelatih nge-misinya buat gak ngebiarin Gentry dan aku main di lapangan di waktu yang sama, tapi itu juga berarti Gentry jadi lebih banyak main daripada aku. Gak peduli seberapa sering aku mohon, pelatih tetep gak mau masang aku.
"Ini gak adil banget!" aku mendengus, berdiri di samping pelatih, "mereka butuh aku." "Kamu baru aja jadi batter, Shane, santai aja."
Menghela napas, aku mengeluh, kenapa gak ada yang belain aku? Kayak aku cuma pengen satu hal berjalan lancar buat aku, gak kebanyakan minta kan?
Begitu aku mikir gitu, peluit bunyi dan Kevin keluar dari pertandingan, "Bishop duduk!" Pelatih teriak ke dia buat keluar lapangan.
"Pelatih, ayolah, pasang aku," aku berbalik ke dia memohon, "tolong liat, aku bakal jadi penangkap di sana, kosong kok." "Di sebelah Gentry?" dia nanya, dan aku berbalik, sadar Gentry berdiri tepat di samping tempat aku nunjuk.
"Itu yang aku pikirkan," dia bilang waktu aku gak bisa jawab.
"Enggak, aku bisa kok," aku membantah, "Aku cuma pengen main, aku gak khawatir soal dia." Pelatih mengangkat alisnya, meragukan aku, "Tolong."
"Pergi," dia memberi isyarat dengan kepalanya, aku langsung lari ngambil sarung tangan, terus lari ke lapangan. Aku gak bohong, kalo ada yang gak bisa main sekarang, itu Gentry, aku bukan orang yang bakal kehilangan akal.
Begitu pertandingan mulai, semuanya berjalan lancar sampai Gentry nangkep bola, berbalik ke aku waktu pemain lain nyamperin dia, Gentry melempar bola ke arahku dengan sekuat tenaga. Lari sampai aku nangkapnya, aku langsung ngejatuhin bolanya sambil mengeluh karena telapak tanganku panas. Melepas sarung tanganku, aku natap telapak tanganku yang sakit sambil memerah. Lupa sama semua yang aku bilang ke diri sendiri buat ngabaikan tingkah lakunya yang rusak, aku ngambil bola terus ngelemparnya ke dia, menghantam punggungnya, Gentry berbalik, "Apaan sih!"
"Gimana rasanya?"
"Serius, Shane? Dewasa dikit, itu kan gak sengaja," dia bilang sambil ngambil bola. Gentry beneran berusaha bikin seolah-olah aku yang punya masalah.
"WOY, AYOOO, KALIAN BERDUA!" Seseorang berteriak.
"Jangan bilang aku buat dewasa, kalo lo yang kelakuan kayak jalang kecil."" "Aku kelakuan kayak apa?"
"Kayak bi—" belum selesai ngomong, aku kepotong bola kena muka tepat di wajahku dengan sekuat tenaga.
Bikin aku jatuh, mata aku natap semua orang berbalik ke arahku waktu aku jatuh. Begitu kepala aku kena tanah, mata aku jadi gelap, dan cuma itu yang aku inget.