Bab 147
"Itu yang kamu pikirkan, Rylan? Kalau aku nggak mikirin kamu?" Aku mengangguk. "Aku nggak mikirin apa-apa lagi sejak kita putus, dan aku cuma gitu biar semua orang berhenti nanya apa aku baik-baik aja." Aku nggak enak. Terakhir kali aku ngomong sama Rylan, dia minta aku mikir buat ngasih dia kesempatan kedua, dan setelah dia pergi, aku berhenti ngomong sama dia.
"Minum-minum bantu?"
"Emang minum-minum pernah bantu?" Dia berdiri agak jauh dari aku, rambut pirangnya acak-acakan banget, matanya merah dan capek.
"Mau mandi di sini juga boleh."
"Nggak bisa, Lyndsey udah jelas banget nggak mau aku di sini." Jujur aku nggak tahu jawabannya, aku nggak tahu apa yang aku mau. "Aku cuma...
balik lagi ke bar ambil mobilku. Nih," dia ngasih aku catatan yang lagi dia tulis, dan aku baca pas dia jalan di sekelilingku buat pergi. *Terima kasih udah ngebolehin aku nginep dan jangan marah sama Lyndsey, dia cuma bantuin.* Aku kangen- dan catatannya berhenti di situ. "Senang ketemu kamu, Rylan," dia pakai jaketnya.
"Cuma ngasih catatan setengah jadi gitu?"
Senyum setengahnya muncul lagi. "Aku rasa kamu bisa nebak kalau aku mau bilang aku kangen kamu."
"Aku juga kangen kamu," aku ngaku, terus sadar mungkin aku nggak boleh ngomong gitu. Senyum setengahnya jadi senyum penuh, dan aku juga ikut senyum ke dia.
"Nggak mungkin."
"Kenapa aku nggak boleh kangen kamu?"
"Karena aku udah bikin semuanya kacau dan Lyndsey bilang kamu udah *move on*." Tentu aja dia bilang gitu. "Karena aku pikir kamu udah *move on*."
"Nggak mungkin aku bisa *move on* dari kamu, Rylan," dia maju dua langkah mendekatiku.
Terus dia nenangin diri, "tapi itu hukumanku dan aku pantas menerimanya," dia sedih.
Dan aku cuma bisa nonton dia ngalamin emosinya, dia berdiri di depanku, kepala nunduk, mata ngelihat lantai karena dia takut ngelihat aku. "Kamu bilang apa tentang aku?" tanyaku iseng. "Waktu kamu di bar?"
Dia gagap dan ngusap rambutnya. "Aku nggak tahu... aku selalu terlalu mabuk buat inget." Aku tahu betapa nggak enaknya dia kalau bohong.
"Nggak, kamu bisa inget, kamu bilang apa tentang aku? Yang jujur," aku nyari matanya sampai mereka saling menatap.
"Aku bilang hal-hal kayak aku punya cowok yang segalanya yang aku mau dan butuh, dan karena rasa nggak aman egoisku, aku udah bikin semuanya kacau. Aku udah bikin kacau banget sampai dia lebih milih ngehapus aku dari hidupnya daripada mikir buat ngasih aku kesempatan kedua," dia marah dan aku pantas menerimanya.
Jujur aku nggak mikirin itu, Rylan nyakitin aku dan aku nggak mikirin kita, aku mikirin diri sendiri. "Jangan bikin aku merasa bersalah karena disakitin, Rylan, kamu nyakitin aku."
"Aku nggak mau bikin kamu merasa bersalah, aku cuma mau ngomongin semuanya, kamu nggak salah apa-apa," dia berhenti, terus lanjut.
"Maaf aku udah nyakitin kamu, Rylan, tapi emang ini masih tentang Amanda?"
Aku berhenti dan bener-bener mikirin pertanyaannya dan jujurnya jawabannya adalah, "Ini udah nggak tentang Amanda sejak lama."
"Terus kenapa kamu terus nge-*ignore* aku?"
Aku beneran tahu jawabannya. "Kamu cowok *straight*, Rylan, nggak peduli apa yang kamu bilang ke diri sendiri atau apa yang terjadi di antara kita, intinya kamu *straight*."
Dia mendengus. "Aku udah nggak *straight* sejak lama, aku tahu tidur sama Amanda nggak bantu, tapi itu bener, aku suka kamu, aku mikirin kamu, aku cinta kamu. Itu nggak bikin aku *straight*." Rylan maju mendekatiku. "Kamu mau aku bilang apa lagi, Rylan?"
"Nggak ada, cuma buktiin ke aku."
"Aku bisa- aku bisa gitu!" Senyumnya melebar nunjukin giginya.
"Bagus, sekarang mau cium aku-" Aku bahkan belum selesai nanya dan bibir Rylan udah di bibirku, dia narik tengkukku pas aku ngusap rahangnya, ngerasain tegang setiap bibirnya menyentuh bibirku. Ciuman kami penuh semangat, lengan dan tangan kami saling membelai.
Sampai pintu depan terbuka. "Nggak bisa diem di mobil lebih lama lagi," Lyndsey masuk, terus ngelihat kami. "Sial! Maaf banget! Aku udah duduk di luar lama banget, aku pikir kalian udah selesai semuanya," dia minta maaf, sadar aku dan Rylan lagi ciuman.
"Kalau kita cuekin dia, dia bakal pergi," bisikku ke Rylan bikin dia ketawa, dan dia mendekatkan bibirnya buat cium aku lagi.
"Oh, kalian mau cuekin aku gitu?" Katanya dan aku dan Rylan terus berciuman. "Oke deh, mungkin aku beneran pergi ke kelas aja," dia berbalik, keluar dari pintu.
Aku dan Rylan menjauh, tertawa. "Aku merasa bersalah." "Nggak usah khawatir, dia pantas menerimanya."