Bab 146
Membukanya, aku buka pintu buat Lyndsey. "Mana kunci lo, sih?!" Rasanya pengen banget ngejitak nih cewek.
"Jangan marah, dong," dia senyum.
"Gue benci kalau lo bilang gitu!" Sambil natap dia, takut apa yang bakal terjadi selanjutnya, aku tanya, "Ada apa?"
Lyndsey minggir, dan aku lihat Gavin berdiri sambil menggendong Rylan yang pingsan. Tanpa bilang apa-apa, aku pergi dan Lyndsey nyusul di belakangku. Aku jalan ke kamar, "Lo marah," tebaknya bener.
"Nggak. Maksud gue, kenapa gue harus marah? Kan nggak kayak lo sengaja ngerusak *mood* gue yang bagus, BERJAM-JAM SETELAH GUE KASIH TAU KENAPA GUE *MOOD*NYA BAGUS!"
"Gue bisa jelasin, sumpah," dia nutup pintu kamar biar kita privasi, "Gue sama Gavin ke bar, dan dia udah ada di sana, minum. Gue coba nggak peduliin dia, tapi Gavin pengen duduk di bar. Dia mulai ngomong sama kita, dan nggak lama kemudian dia pingsan. Gue nggak bakal bawa dia ke sini, Keegan. Kita nggak tau harus gimana lagi sama dia."
"Gimana kalau periksa kantongnya, atau hapenya buat kontak darurat," gue kasih beberapa contoh.
"Gue udah coba, tapi yang ada di kantong cuma dompet, hape, sama kunci mobil. Hape dia terkunci, tapi liat deh Keegan," dia ngambil hapenya dari kantong jaketnya, "layar kuncinya foto kalian." Dia kasih hape itu ke gue, "Liat, kalian tuh kayak orang kasmaran banget."
Gue inget foto itu, kita lagi di kamar gue belajar, dan dia narik gue, nyium pipi gue, dan gue ngambil hapenya terus foto. Gue balikin hapenya, "Simpen aja, itu bisa kasih kalian berdua alasan buat ngobrol."
"Ini nggak bener, Lyndsey, lo nggak bisa gitu aja-"
Dia motong, "Bartender bilang, dia minum di sana hampir tiap malam, ngoceh nggak jelas tentang cowok terus pingsan. Kebanyakan malam, kalau dia mabuk nggak bisa nyetir, dia naik taksi pulang, tapi kalau dia pingsan, mereka usir dia, dan dia tidur di mobilnya." Gue natap fotonya dan ngeliat lagi ke Lyndsey, "Kalau lo mau marah atau marah-marah ke gue, gue terima kok, tapi lo harus tau gue nggak bakal sengaja ngerusak *mood* lo yang bagus." "Gue tau," jawabku pelan.
"Kalau lo nggak mau ketemu dia, gue sama Gavin gantian jagain dia, dan bangunin dia pagi-pagi biar dia bisa pergi."
"Nggak apa-apa, lo nggak usah gitu, dia juga pasti pergi pas bangun, kok, dan gue bisa di sini sampai saat itu."
"Oke," dia jalan ke pintu dan buka, "Setidaknya ngobrol sama dia, Kee. Gue tau lo kangen dia, dan dia semalaman bilang ke kita betapa dia kangen sama lo," terus pergi.
Sambil duduk di kasur, gue habiskan sisa malam mikirin dia, apa artinya ngobrol sama dia? Gue nggak pernah tau harus ngomong apa sampai gue berdiri di depannya. Nggak percaya dia udah mabuk di bar itu hampir tiap malam. Gue pikir dia baik-baik aja, setiap kali gue ketemu dia, dia selalu ketawa atau senyum sama temen-temennya.
Sekarang udah hampir jam 8 pagi, dan gue habiskan seluruh malam natap langit-langit mikirin Rylan. Dapet *chat* dari Lyndsey, gue ambil hape, bacanya. *Gue mau pergi kuliah, tapi gue udah bangunin Rylan dan nyuruh dia pergi. Sampai jumpa.*
Ini kesempatan gue, kalau gue keluar, gue bisa ngomong sama dia dan cari tau ada apa, gue ambil hapenya, natap layar kunci itu sekali lagi. Natap senyum gue, gue inget betapa dia bikin gue senyum dan ketawa, dan gue kangen itu, gue kangen dia.
Berdiri sambil pegang hapenya, gue jalan ke pintu dan narik napas panjang, buka pintunya, gue keluar kamar, jalan ke ruang tamu. Nggak denger apa-apa, gue sampai ruang tamu dan lihat sofa kosong, dia udah pergi. Mungkin itu pertanda baik, mungkin semesta bilang ngobrol sama dia ide yang buruk, sambil menghela napas lega, gue jalan pergi ke dapur.
Begitu masuk, gue nemuin dia berdiri di meja, lagi nulis di selembar kertas, dia nggak liat gue, dan dia terus nulis. Berdehem buat minta perhatiannya, dia kaget dikit dan balik badan. Dia liat gue dan gue liat dia, kita sama-sama natap satu sama lain, dan setelah beberapa saat dia senyum khasnya, "Maaf, gue nggak bermaksud bangunin lo, gue cuma mau ninggalin catatan buat terima kasih udah ngebolehin gue numpang, gue mau pergi sekarang," dia naruh penanya.
Melihat dia meraba-raba kantongnya dan celingak-celinguk, dia balik lagi ke gue, "Lo nggak liat hape gue, kan?" Nunduk ke tangan gue, gue inget gue lagi megang itu. Gue kasih ke dia, dan dia senyum, mendekat sedikit ke gue dan ngambil dari tangan gue, "Makasih," dia masukin ke kantongnya.
"Gue pikir lo baik-baik aja," akhirnya gue bilang, "waktu gue ketemu lo di kampus, kayaknya lo nggak mikirin gue."