Bab 167
Wyatt bagian 2
Kalau dipikir-pikir, sebenarnya nggak terlalu buruk. Cowok yang hampir nggak kukenal, yang udah berantem sama tukang bully buat aku seminggu ini, baru aja cium aku, kan nggak aneh, ya? Wyatt jalan di belakangku waktu aku buru-buru ke mobil berusaha nggak panik, maksudku bukan berarti aku benci ciumannya, cuma aku udah lama nggak dicium. Ciuman ini juga sempurna, terlalu sempurna. "Biar aku jelasin!" Dia terus ngikutin aku waktu aku berusaha sampai ke mobil.
"Nggak apa-apa kok, aku beneran nggak marah." Aku beneran nggak marah. "Terus kenapa kamu malah pergi sekarang?" "Karena aku harus." Aku harus pergi sekarang.
"BERHENTI!" Dia teriak bikin kaget dan aku nurut. "Balik badan." Aku bisa lihat mobilku, cuma tiga mobil lagi, aku bisa lari. "Aku baru aja nonjok cowok di muka kamu sekitar 10 kali, minimal kamu lihat aku dulu," Aku memejamkan mata sambil meremasnya, lalu pelan-pelan berbalik menghadap dia.
"Sebelum kamu ngomong apa pun," Aku mulai pelan-pelan, matanya beralih dari mataku ke celanaku. "Ya! Itu 'anu' berdiri." Kalau Zeus beneran ada, dia pasti bakal nyamberin petir sekarang buat nyerang aku dan ngebuktiinnya.
"Itu karena aku?" Dia maju selangkah. "Karena aku cium kamu?"
"Menurut kamu gimana?" Mukaku merah banget karena malu, nggak ada cowok yang pernah cium aku kayak gitu sebelumnya, aku jadi bersemangat.
"Aku tersanjung," dia menyeringai.
"Bagus. Sekarang aku boleh pulang?" Mobilku udah di sana! "Boleh aku ikut?"
"Nggak!" Aku buru-buru nolak. "Maksudku, nggak usah, makasih, aku tahu di mana rumahku." "Kamu bisa kasih aku tumpangan, kan, aku ingat kamu bilang--"
"Aku tahu apa yang aku bilang." Ya Tuhan, kenapa ini harus terjadi? Aku berdiri di depan cowok yang sangat menarik dengan 'anu' berdiri dan yang kupengen cuma mati. "Aku harus pulang." "Apa kita nggak mau bahas apa yang terjadi?"
Aku membuang muka dan buru-buru, "Nanti aja deh!" Teriakku sambil berlari ke mobil dan pergi ninggalin dia di sana. "Kc Matlyn, kamu benar-benar payah jadi cowok gay!" Aku memarahi diriku sendiri. "Kenapa sih dia harus cium aku?" Akhirnya aku sampai rumah dan buru-buru ke kamar sebelum ada yang lihat.
—
7:25 pagi
Kayaknya aku harus bangun dari tempat tidur sekarang, tapi aku nggak bisa balik ke sekolah itu. Antara Rory yang pengen ngilangin kepalaku dan 'anu' berdiri di depan Wyatt, aku beneran nggak boleh nunjukin muka di sekolah itu lagi. Waktu aku rebahan di sana berusaha mikir cara biar nggak usah sekolah, aku denger kenop pintu kamarku berisik. "Kc, kamu bakal telat ke sekolah," kata Ibuku, seandainya dia tahu. Dia masuk setelah aku nggak ngejawab. "Bangun dari tempat tidur sekarang, aku tahu kamu bangun."
Pura-pura sampai jadi nyata, Kc. "Aku nggak enak badan," aku merengek berharap dia percaya. "Aku kayak mau muntah dan kayaknya aku demam tinggi." Ya Tuhan, tolong biarkan dia percaya.
Dia mendekat dan megang dahiku. "Kamu nggak apa-apa! Sekarang bangun dan sarapan," dia keluar dari kamarku. Nggak mungkin aku bisa bolos sekolah meskipun aku coba, nggak mungkin ada Ibu di sekelilingku.
Setelah siap-siap aku makan dan berangkat. Ngendap-endap di lorong, aku udah telat 10 menit buat kelas pertama. Guruku ngasih tatapan kecewa dan aku pelan-pelan duduk di bangku belakang. Begitu udah nyaman, "Kc Matlyn dan Wyatt Briggs ke ruang Kepala Sekolah," kami denger dari pengeras suara. Apaan sih ini? Semua orang noleh ke arahku, aku pelan-pelan beranjak dari bangku, apa ini rasanya jalan menuju kehancuran?
Aku masuk ke kantor dan nemuin Wyatt yang diam-diam menyeringai ke arahku, dan Rory yang mukanya kelihatan agak kasar. Wyatt beneran ngasih pelajaran buat dia. "Mr. Matlyn, silakan duduk," Aku duduk di kursi kosong di sebelah Kepala Sekolah. Rory ada di paling kanan dan Wyatt duduk di tengah-tengah kami. "Kalian tahu kenapa saya panggil ke sini?" Dia nanya dan nggak ada yang jawab. "Rory datang ke saya pagi ini dan bilang hari Jumat waktu sekolah kalian berdua menyerangnya."
"Itu omong kosong!" Jawabku.
"Tolong dengarkan," Kepala Sekolah mengulurkan tangannya buat nenangin aku. "Serangan terhadap siswa di sekolah ini membutuhkan skorsing segera."
"Terus kenapa dia masih di sini?" Wyatt nunjuk Rory. "Dan mari kita luruskan cerita ini, kami nggak menyerang dia, aku yang melakukannya." Aku noleh ke dia nggak percaya kalau dia beneran ngaku sekarang. "Aku udah di sekolah ini seminggu dan aku nemuin orang tolol ini mukulin dia dua kali."
"Jaga bahasa kamu di kantor saya, Mr. Briggs, dan kalau kamu lihat Kc diserang kenapa kamu nggak laporin?"
"Karena Bapak bakal urus, kan?" Wyatt maju ke ujung kursinya. "Kamu tahu apa yang aku suka dari sistem sekolah? Jagoan olahraga melakukan apa pun yang mereka mau dan lolos begitu aja kenapa? Karena mereka menghasilkan uang buat kalian. Sedangkan orang kayak dia"
Wyatt nunjuk aku. "Dibully setiap hari. Kalian ngomong tentang betapa salahnya bullying, tapi ketika tiba saatnya buat menghukum orang kayak dia, cuma kasih peringatan ringan, kan?"
"Kami punya hukuman yang sama buat semua siswa kami di sini, Mr. Briggs."
"Tentu saja." Wyatt noleh ke aku. "Udah berapa kali dia mukulin kamu?" Tenggorokanku kering banget buat ngejawab, aku nelan ludah, aku bilang, "Terlalu banyak buat dihitung."
"Dan berapa kali kamu laporin?"
"Terlalu banyak buat dihitung." Kami berdua saling pandang ke Kepala Sekolah.
"Saya yakin dia nggak pernah diskors sekali pun karena menyakitinya." "Apa maksudnya?"
"Aku nggak punya maksud apa pun, cuma mau menyampaikan maksud. Tapi aku beneran nggak peduli, kasih aja aku skorsingnya karena aku yang ngelakuin dan bukan Kc. Tapi ketahuilah"
dia noleh ke Rory. "Aku bakal selalu membela dia kalau aku lihat kamu nyakitin dia." Rory duduk diam selama semua itu. "Kalau kita udah selesai di sini, boleh aku balik ke kelas?"
"Pergi." Dia ngasih isyarat dan aku sama Wyatt pergi.
Itu keren banget. "Kamu siapa sih?" Aku nanya sambil jalan di sampingnya. "Maksudku, aku belum pernah denger ada orang yang berani ngomong gitu ke dia."
"Aku nggak takut ngomong apa yang kupikirkan, Kc."
"Itu bakal bikin kamu jauh." Kami terus jalan. "Tapi makasih buat apa yang udah kamu lakuin di sana." Dia berhenti jalan dan menghentikanku juga. "Aku suka kamu, Kc."
"Kamu nggak kenal aku."
"Aku kenal cukup buat tahu aku suka kamu, dan aku mau ajak kamu jalan." "Tapi kenapa? Aku kan--"
"Sumpah kalau kamu bilang nggak ada orang, aku bakal gila," dia mendekatiku merangkul pinggangku. Dadanya menempel di dadaku, aku lihat ke kanan dan kiri lorong buat mastiin nggak ada orang datang. "Aku nggak bisa berhenti mikirin ciuman kita."
Semua ini bikin aku benar-benar gugup. "Orang bisa lihat kita."
"Aku nggak peduli." Aku bisa ngerasain napasnya di hidungku. "Dan kalau itu bikin kamu lebih baik, waktu aku pulang hari Jumat, aku juga 'anu' berdiri," dia tersenyum.
"Setidaknya kamu di rumah."
Dia ngeliatin aku dan berbisik, "Aku pengen banget cium kamu sekarang."
Nafasku jadi lebih berat, ya Tuhan, dia harus berhenti sekarang atau apa yang terjadi kemungkinan bakal terjadi lagi.
"Tapi aku nggak bakal." Dia ngelepas rangkulannya dari pinggangku dan mundur. "Nggak mau bikin kamu bersemangat di tengah sekolah."
"Terlambat," kataku pelan sambil berusaha nenangin diri buat mencegah apa yang terjadi hari Jumat terjadi lagi.
"Bisa kita jalan-jalan nanti?"
"B-boleh, kamu mau ngapain?"
"Aku nggak tahu, cari aku setelah sekolah dan kita cari tahu."
Wyatt Briggs, namanya terus berputar di pikiranku sepanjang hari waktu aku berusaha fokus di kelas. Setiap kali aku lihat dia di lorong, dia bakal ngedipin atau senyum ke aku bikin lututku lemes. Setelah sekolah, aku jalan ke mobilku dan semakin dekat, aku mulai lihat Wyatt bersandar di mobilku nungguin aku. "Kirain aku bisa kabur dari sini tanpa kamu sadari."
Dia tersenyum. "Nggak bisa nyingkirin aku semudah itu, Matlyn."
Aku mendekat, ngebuka kunci mobilku dan dia ngasih aku kertas. "Apa ini?" Aku nerima dari dia. "Surat skorsing."
"Berapa lama?" Aku nanya sambil baca. "Sisanya minggu ini."
"Nggak terlalu buruk, cuma 4 hari." Kami berdua masuk ke mobilku. "Minggu kedua dan kamu udah diskors."
"Kesan pertama yang bagus, kan?"
"Iya deh." Aku ngebut. "Kamu mau ke mana?" "Aku beneran pengen burger sekarang."
"Aku tahu tempatnya." Kami makan dan jalan-jalan sampai waktunya pulang. Aku berenti di rumahnya. "Kamu bakal kena masalah sama orang tuamu?"
"Mereka bakal bisa terima." Dia ngeliatin aku dan seluruh suasana di mobil berubah. "Aku udah nunggu dengan sabar sepanjang hari, boleh aku cium kamu sekarang?"
Nelan ludah, aku ngangguk. Melepas sabuk pengamannya, dia mendekat ke arahku, menggunakan bibirnya, dia menarikku. Aku bisa ngerasain root beer yang dia makan waktu makan, bibirnya terbuka untuk memberi ruang bagi bibirku. Lidahnya masuk ke mulutku dan aku bisa ngerasain isi perutku berputar, rasa bibir dan lidahnya bakal bikin aku gila. Dia pelan-pelan menjauh, "Coba jangan sampe 'anu' kamu berdiri sampai aku keluar mobil," dia tersenyum.
"Makasih udah ngingetin," itu udah terjadi.
"Sampai jumpa, Kc Matlyn," dia keluar dari mobil dan pergi. Ya, aku 'anu' berdiri.