Bab 187
Teddy
Udah tepat 2 minggu 3 hari dan 5 jam sejak aku dan Teddy berhubungan badan. Aku pikir itu istimewa, setidaknya buat aku. Aku masih perawan dan selalu pengen kehilangan itu sama cowok yang tepat, tapi setelah bikin terlalu banyak kesalahan, aku sadar kalau nggak ada yang namanya cowok yang tepat. Jadi aku nyerah soal itu. Waktu pertama kali pindah ke sini setahun lalu, aku nggak nyangka bakal kayak gini sama Teddy, maksudnya kita beneran dari dunia yang beda. Dia di atas sana, di Merkurius sama anak-anak populer, sedangkan aku di Jupiter.
"Mau makan malam, sayang?" Ibu masuk ke kamarku waktu aku lagi duduk di lantai, mempertanyakan semua keputusan yang pernah aku buat.
"Nanti aja, makasih."
"Semuanya baik-baik aja, Adam?" Aku nggak jawab karena aku cuma bakal bohong dan bilang iya, dan aku nggak mau bohong. Dia masuk dan nutup pintu, "Ada apa?"
Aku menghela napas, "Kalo aku cerita, kamu harus janji nggak bikin masalah.""
"Aku nggak bakal."" Dia duduk di lantai di sebelahku.
"Ada cowok," aku mulai dan dia langsung merhatiin, "Namanya Teddy, dan 2 minggu lalu aku semacam
hilang keperawanan sama dia." Matanya membesar, "Sebelum kamu ngomong apa-apa, Ibu, aku hampir 18, dan ya, kita pake pengaman."
"Kamu suka cowok ini?"
"Banget, Ibu. Maksudku, aku mikirin dia terus. Aku pikir dia juga suka aku, makanya aku mau sama dia, tapi dia nggak pernah ngomong sama aku sejak itu."
"Maafin ya, sayang."
"Seharusnya aku udah tau ini bakal terjadi, dia bahkan belum keluar. Dia udah gay selama dua tahun dan masih ngumpet."
"Ya udah, Adam, udah terjadi, dan yang bisa Ibu bilang, lepaskan dia, kamu lebih baik dari cowok itu, dan kamu bakal nemuin seseorang yang lebih istimewa."
"Seharusnya kamu ngomong gitu, kan kamu Ibu aku."
Dia tertawa, "Bener sih, tapi Ibu juga beneran kok." Dia berdiri dari lantai, "Sekarang bangun, lepaskan cowok ini, dan makan malam sama orang-orang yang beneran peduli dan sayang sama kamu." Dia pegang tanganku dan kita keluar kamar.
--------
2 hari kemudian...
Aku harus lupain Teddy, tapi apa ini sedih karena aku nggak bisa? Dia punya pengaruh yang bikin setiap kali aku selangkah lebih deket buat ngelupain dia, dia cuma senyum ke aku dan aku malah mundur 3 langkah dari awal. Nggak ngebantu juga dia duduk persis di depanku di kelas kimia, aku pura-pura dia nggak ada di sana, tapi itu nggak mungkin karena dia duduk di sana.
Pulang sekolah, aku langsung ke mobil dan pergi, aku nggak pernah betah di sini lebih dari yang seharusnya, aku ngehindar semua sudut biar nggak ketemu dia. Waktu sampe rumah, aku langsung diserbu sama Rena dan Tina, adik-adikku, "Adam!" Mereka lari ke aku dan nyerang aku dengan pelukan yang bikin aku senyum. Mereka baru 4 tahun, tapi kelihatan lebih tua.
"Hai, guys," aku lepas tas sekolahku dan gendong mereka ke dapur tempat Ibu lagi masak, "Hai, Ma," aku masuk sambil nyium pipinya dan nurunin si kembar.
"Gimana hari kamu?" dia nanya sambil motong wortel.
"Nggak ada apa-apa," jawabku sambil nyolong sepotong wortel dan masukin ke mulut.
Si kembar lari-larian bikin berisik, "Mau nggak kamu ajak mereka ke taman? Ibu nggak bisa fokus dengan semua kebisingan ini," tanyanya.
"Boleh," jawabku. "Rena dan Tina!" Aku panggil mereka dan mereka langsung nyamperin, "Sana pake sepatu sama sweter, kita mau ke taman." Mereka loncat-loncat kegirangan dan lari.
"Aku mau masang kursi mereka di mobil, bilang mereka keluar kalo udah selesai."
"Oke. Nanti Ibu teks kalo makan malam udah siap, biar kalian balik," aku pergi.
Setelah masang kursi mereka di jok belakang mobil, mereka naik dan kita langsung ke taman, "Guys, apa aturan kalo kita di taman?" aku nanya.
"Jangan ambil barang dari orang asing," kata Rena.
"Jangan jahat sama anak-anak lain," tambah Tina.
"Dan selalu deket kita," Rena mengakhiri.
"Anak baik," aku senyum. Kita sampe di taman dan aku parkir mobil, sebelum aku sadar mereka udah lari ke ayunan ninggalin aku. Aku duduk di bangku sambil ngeliatin si kembar ketawa dan ngayun-ngayun kaki biar lebih tinggi di ayunan. Ngeluarin HP-ku, aku geser-geser layar nyari sesuatu buat dilihat
tapi nggak ada, jadi aku pasang headset dan muter musik. Sambil terus merhatiin si kembar dan dengerin musik, aku ngerasa ada yang duduk di sebelahku di bangku. Pelan-pelan aku noleh buat ngeliat orang itu, dan sebelum aku liat wajahnya, aku udah tau siapa dia.
Teddy duduk di sampingku, aku nggak bisa biarin dia liat aku kayak gini, aku nggak boleh lemah di depannya. Dia bikin aku lemah dan aku benci itu. "Ngapain kamu di sini?" aku nanya, nggak mau noleh ke dia.
"Aku harus ngomong sama kamu," suaranya yang deket bikin bulu kudukku merinding.
Aku senyum, "Mau bilang kita nggak bisa ngomong lagi, gitu?" aku nanya sarkasme, dia buka mulut mau ngomong, dan aku potong, "Kamu nggak perlu, dua minggu terakhir udah jadi jawaban yang aku butuhin."
Dia duduk diam dan aku tetep nggak ngeliatin dia, "Aku brengsek," dia ngaku.