Bab 59
Christian & Clay bag. 1
"Kenapa gue harus terjebak sekolah swasta sementara mereka masih di sekolah reguler lagi?" Nico masuk ke dapur sambil berusaha benerin dasinya pas keluarganya lagi sarapan.
"Jawabannya sama kayak waktu kamu nanya terakhir kali, kamu di sekolah swasta karena kamu harus benerin prioritas kamu." Ibunya ngejawab sambil ngambil dasinya dan benerin.
"Prioritas? Gue janji gue bakal berhenti berhubungan seks, Ayah percaya gue kan?" Dia ngeliat ke Ayahnya yang lagi makan di meja. "Nggak deh, jangan libatin gue," dia geleng kepala.
Nico duduk di samping adiknya yang umur 6 tahun, "seks itu apa sih?" Dia noleh ke dia nanya. "Pen seks itu waktu dua cowok saling suka banget-"
"Heh!" ibunya ngegas ke dia. "Berhenti, Nico." Terus dia noleh ke anak perempuannya, "Kamu masih terlalu kecil buat tahu hal-hal kayak gitu, Pen."
"Gimana gue?" Eli anak kedua nanya. "Gue kan udah sepuluh, boleh tahu nggak?" "Nggak, kamu juga masih terlalu kecil, sekarang makan deh."
"Guys" Nico narik perhatian balik ke dia. "Kalo ini cuma lelucon yang dibuat-buat, kalian berhasil banget deh bikin gue begini, kita nggak harus lanjutin kan?"
"Kamu udah seminggu di sekolah itu, Nico, jelas ini bukan lelucon."
"Oke deh, tapi kenapa nggak pindahin gue aja ke sekolah lain? Kenapa harus sekolah swasta?"
"Karena setidaknya kita tahu kamu juga ngeprioritasin pendidikan kamu juga, kalo kamu dipecat karena bego dan horny, kita tahu ada sesuatu yang salah sama kamu, dan kita bakal masukin kamu ke rumah sakit jiwa. Itu yang kamu mau, sayang?" Dia nanya sambil senyum ke dia.
Nico ngeliat ke Ayahnya yang matanya fokus ke HP-nya berusaha menghindari percakapan. "Nggak ada?" Frustasi dia berdiri. "Gue senang kita semua bisa setuju tentang sesuatu di rumah ini." Sambil jalan ke mangkuk buah di konter, Nico ngambil pisang, noleh ke saudara-saudaranya dia bilang, "Pen, Eli" mereka ngeliatin dia. "Seks itu waktu penis masuk ke pantat!" Dia lari keluar dapur.
"Nicolas masuk sekolah!" Ibunya ngegas.
Nico itu jiwa yang bebas dan orang tuanya percaya dia buat ngelakuin apa yang dia mau, tapi waktu itu jadi cowok daripada sekolah, mereka sadar seks mungkin ngeblurin penilaian anak remaja mereka. Jadi, mau buktiin kalo mereka lebih dari orang tua yang keren, mereka mutusin buat masukin Nico ke sekolah swasta, dengan begitu dia nggak punya pilihan selain fokus.
Terlalu dini buat bilang rencana mereka berhasil karena mereka kenal anak mereka, dia bakal nemuin gangguan cepet atau lambat.
Sekolah swasta itu mimpi buruk Nico, segerombolan anak kaya yang cuma mikirin penampilan. Gampang buat Nico bilang ke dirinya sendiri kalo dia nggak cocok, karena dia cukup beruntung buat masuk sekolah negeri sama temen-temen beneran, dan semua cowok yang dia mau.
Selama minggu pertamanya, Nico udah belajar sejauh ini kalo sahabat terbaiknya Kelsie Chapman dan Cotton Lance pada dasarnya ngatur sekolah, mereka paling atas di kelas mereka, tim olahraga mereka, dan rantai makanan.
Terus ada anak-anak olahraga yang preppy, mereka nempel bareng dan kamu selalu bisa tahu tim mana mereka berada, karena tongkat yang sangat mencolok yang mereka pegang. Anak-anak nakal yang preppy yang bikin pesta terbaik dan mikir uang mereka bisa beli hukum, dan anak-anak persiapan yang preppy nggak pinter tapi nggak sepenuhnya bodoh cuma punya banyak uang yang bikin mereka bisa ke mana-mana.
Terus ada saudara Wallace, Christian dan Clay Wallace. Christian dan Clay itu saudara tiri yang nggak punya kesamaan sama sekali.
Christian itu sempurna dan dia tahu itu, dia masuk ke setiap ruangan dengan kepercayaan diri yang terpancar dari dirinya, kamu bisa lihat itu.
Nico suka itu, dan di hari apapun insting pertamanya bakal ngelakuin apa pun buat bikin Christian di ranjang. Tapi sekarang beda, dia harus beda jadi Christian Wallace nggak boleh disentuh.
Tapi terus ada- "hei," Nico disambut waktu jalan ke tempat duduknya di kelas.
"Hai," dia ngejawab balik duduk di samping Clay. Clay Wallace itu yang imut tapi mudah didekatin, bukan berarti dia nggak bisa jadi kandidat yang pantas buat Nico tapi Clay bukan saudaranya. Jadi, Nico nggak ngeliat dia sebagai kemungkinan gangguan.
"Gimana kabarnya?" Nico noleh ke dia sambil senyum.
Mereka berbagi meja jadi Clay udah ngasih dia bocoran sekolah, "baik, gimana sama kamu? Udah milih kegiatan ekstrakurikuler kamu belum?"
"Gue masih nggak ngerti kenapa itu penting banget, di sekolah gue dulu nggak ada yang peduli apa yang kamu lakuin di waktu luang kamu."
"Yah di Darlington waktu luang itu waktu yang kamu buang buat masa depan kamu." "Gue benci sekolah ini," Nico menghela napas.
"Nggak buruk-buruk amat" dia noleh ke wajah Clay yang tersenyum, dan nggak bisa nggak ngerubah cemberutnya jadi senyum tipis,
"Gue bisa bantu." "Gimana?"
"Kamu bisa gabung klub gue," "Klub kamu apa?"
"Ini klub amal, gue satu-satunya anggota yang bikin gue jadi presiden. Yang harus gue lakuin cuma milih amal setiap tahun dan ngumpulin uang buat itu, ini cukup gampang."
"Gue nggak mau ngabisin waktu luang gue buat ngemis uang ke orang-orang"
"Gue nggak ngelakuin itu," dia geleng kepala. "Gue cuma bohong soal jam yang dicatat, ngelakuin apa yang gue mau dan nyumbang uang orang tua gue. Mereka juga nggak tahu harus ngapain sama itu dan amal dapet apa yang mereka butuhkan."
Nico natap Clay. "Wow," dan Clay terkekeh. "Dan kamu lolos?" Dia ngangguk. "Gimana kalo ada yang mau gabung klub kamu?"
"Kamu bercanda? Udah ketemu orang-orang ini belum? Mereka cuma mikirin diri mereka sendiri, waktu udah waktunya gue buat rekrut anggota baru, mereka cuma tanda tangan cek atau ngelempar uang ke gue biar mereka nggak harus gabung. Ini kejahatan yang sempurna"
"Kamu jenius yang jahat, Clay Wallace" mereka saling natap dengan senyum lucu. "Apa yang harus gue lakuin buat gabung klub ini?"
"Disetujui sama presiden," "Nggak itu berarti-"
Dia ngangguk. "Dan dia bilang kamu boleh dengan satu syarat"
"Apapun"
"Kamu bawa camilan ke pertemuan selanjutnya," Nico terkekeh. "Berhasil!"