Bab 4
"Hei, ada makanan gak sih? Gue laper banget?" Dia berhenti ngetik sambil nanya dan noleh ke Ibunya, yang gak dia sangka adalah dia nemuin Daniel berdiri di belakangnya. "Hai," sapa Jasper begitu mereka masuk, "Daniel ada di sini,"
"Gue bisa lihat itu," Ibunya minggir, ngebiarin para cowok saling pandang. Daniel gak ngomong apa-apa dan Jasper noleh ke Ibunya, "Makasih, Ibu," dia ngasih kode biar Ibunya pergi.
"Oh, oke deh, Ibu buatin kalian cemilan," dia keluar sambil nutup pintu.
Ngebalik kursinya biar ngehadap Daniel, Jasper nanya, "Mau duduk?" Dia nunjuk ke kasurnya, "Kecuali lo cuma mau berdiri di situ, ya udah, terserah lo deh."
Daniel nyamperin dan duduk di kasur si cowok, Jasper merhatiin dia dan gimana diemnya dia. Jasper akhirnya ngeh tatapan khawatir di wajahnya,
"Ada apa?"
Daniel natap dia, ngepalin tangannya, dia mulai, "Gue mau ketemu Ayah gue hari ini," kata Daniel dan alis Jasper langsung berkerut.
"Kenapa?" tanya Jasper.
"Gue gak bisa kasih tau lo, ini ada hubungannya sama kasusnya, jadi..." Daniel ngerasa bersalah gak bisa cerita ke Jasper, tapi dia beneran gak bisa. Jasper ngangguk, ngerti, tapi dia udah nyadar gimana tertekannya Daniel sejak persidangan Ayahnya. Dia bersikap seolah-olah dia baik-baik aja, tapi Jasper tau dia gak baik-baik aja.
"Lo mau gue ikut?"
"Gak bisa," Daniel makin sedih tiap kali Jasper nanya, "Gue pengen lo ikut, tapi kita bisa kena masalah kalo lo ikut." Daniel bisa bilang Jasper bingung, dia harus bersikap rahasia, terlalu banyak resiko yang terlibat.
"Lo bisa cerita apa aja gak sih?" Jasper nanya pertanyaan terakhir dan Daniel mikir cara terbaik buat jawabnya,
"Gue gak mau lihat muka sialannya," Daniel ngehela napas, ngejatuhin kepalanya ke telapak tangannya. Si cowok udah ngelewatin banyak hal, dan dia masih bisa jadi temen Jasper jadi yang bisa Jasper lakuin cuma jadi temen balik.
Bangun dari kursinya, Jasper pincang nyamperin kasurnya, duduk di samping Daniel.
Semuanya di pikiran Daniel tiba-tiba berhenti saat dia ngerasa tangan Jasper di punggungnya. Pelan-pelan si cowok ngusap tangannya ke atas dan ke bawah, ngirim sensasi dingin di punggung Daniel. Ngerasa dirinya mau lepas, Daniel ngehela napas lalu langsung narik diri, berdiri dari kasur dan menjauh dari tangan Jasper. "Gue harus pergi, perjalanannya jauh," katanya. "Oke," Jasper ngangguk, "Semoga berhasil."
"Makasih," Jasper merhatiin dia buru-buru keluar dari pintu.
Masuk ke pintu yang kebuka, Ibunya Jasper nanya, "Dia baik-baik aja?" "Gue rasa enggak," Jasper ngehela napas, berdiri,
"Kasihan banget, semua orang masih jahat banget sama dia dan Ibunya."
"Iya, kayak mereka ngurung Ayahnya, apa lagi yang orang mau?"
Dia mengangkat bahu, nyamperin mejanya dan naruh piring di tangannya, "Gimana tugasmu?"
Dia nyentuh rambutnya saat Jasper duduk kembali di kursi mejanya
"Baik-baik aja... Gue cuma khawatir sama Daniel sekarang, dia bilang dia harus ketemu Ayahnya tapi gak bisa cerita kenapa. Menurutmu mereka bisa maksa dia buat ngelakuin itu?"
"Iya," dia ngangguk, "Mungkin ada sesuatu yang perlu mereka tahu dan dia cuma mau cerita ke Daniel." "Dia kejebak di tengah semua ini dan dia gak pantes buat itu,"
"Gue yakin Daniel bisa ngatasinnya, sayang," Jasper juga berharap begitu.
Beberapa jam kemudian Jasper udah lewat khawatir dan udah panik banget, dia udah nge-teks dan nelpon tapi jelas banget hapenya Daniel mati.
"Udah gue bilang dia bakal ngeliatin hapenya dan entah gimana gak bales teks kita," Jasper denger bisikan dari pintunya dan noleh ke Savannah dan Pete yang berdiri di sana.
"Kalian ngapain di sini?"
"Lo nelpon gue panik soal Daniel terus gak ngasih detail apa-apa, gue khawatir," Savannah nyamperin, duduk di ujung kasur Jasper, sementara dia bersandar di kepala ranjang, Pete ngambil kursi meja.
"Ada apa sih, bro?" tanya Pete sambil mereka natap Jasper "Daniel matiin hapenya,"
"Mungkin tau lo bakal gila."
"Pete!" Savanah noleh, natap si cowok.
Menggerutu, Jasper ngelempar hapenya, ngambil bantal dan ngubur wajahnya di sana. Dengan suara yang gak jelas dia bilang, "Ya Tuhan, dia bener... Gue sama kayak Ibu gue." Gak peduli seberapa dia benci ngakuinnya, Jasper tau itu bener, Jonas lebih mirip Ayah mereka sementara dia berubah jadi Ibunya... Tiap hari.
"Itu gak harus jadi hal yang buruk... Denger, gue tau kita nge-bully lo dulu soal Daniel—" "Kita? Itu kebanyakan lo," Pete motong.
"Lo juga ikut!" Savannah ngegas ke dia terus fokus lagi ke Jasper, "Yang mau gue bilang adalah lo jelas peduli sama Daniel dan itu gak apa-apa. Kita gak di sini buat ngehakimi, kita di sini buat bantu." Pelan-pelan mindahin bantal, Jasper natap temen-temennya dan Savannah senyum, "Udah berapa lama?"
"Beberapa jam," Jasper ngeliat jam di nakasnya, "Delapan jam." "Selama itu?"
Jasper ngangguk, "Penjara jaraknya tiga jam, jadi..."
"Oke jadi artinya hapenya harus nyala selama itu buat GPS, mungkin dia beneran gak bisa ngobrol sama lo."
"Mungkin..." Jasper terus cemberut.
"Sav tau rahasia!" Pete tiba-tiba nyeplos.
"Anjir!" Savannah noleh ke dia "Apaan sih lo?!" "Ceritain aja!"
"Rahasia apa?" Jasper fokus ke Savannah yang matanya nyisir seisi kamarnya "Um, gue tau kalau pas persidangan Ayahnya Daniel harus bersaksi,"
"Apa? Tau dari mana?"
"Cherish berguna juga ternyata," jawab Savannah, "dia kepo dan tau dari orang tuanya... Gue gak tau itu beneran atau enggak."
"Tapi itu masuk akal, kenapa dia beda banget sejak persidangan. Dia datang kemari tadi dan rasanya dia dipaksa buat pergi,"
"Gimana kalau dia udah di rumah sekarang?" Pete nanya terus dia nyaranin, "Kita bisa anter lo buat lihat, mungkin lo bisa ngecek dia baik-baik aja."