Bab 86
Coba kita lihat gimana hari Jumat sejauh ini... Gue menghindari nebeng ke sekolah sama Elliot, karena semalam tuh mimpi buruk yang beneran terjadi, dan pesan teks dari dia juga gue abaikan, dia pasti marah sama gue. Gue gak nyalahin dia, kalau gue jago banget ngindar dari pacar sendiri, pasti ada yang salah sama gue, kan?
Setelah ngasih tau Maisie soal usaha yang gagal semalam, dia gak ragu-ragu buat bilang 'gue udah bilang'. "Dengar, gue ngerti," lanjutnya saat gue berdiri di belakangnya waktu dia di lokernya, "Gue kemarin kayaknya terlalu agresif, jadi kalau itu ada hubungannya-"
"Gak ada."
"Oke, jadi gimana ceritanya?" LUCKY LUCKY!
"Itu... gak bagus."
Dia noleh ke gue "Iya, gue ngerti, tapi gimana ceritanya?"
"Gak ada apa-apa sih, kita ngobrol dan mutusin buat istirahat beberapa hari buat lihat gimana perasaan kita," dia natap gue setelah omong kosong itu selesai.
"Oke," dia nutup lokernya dan senyum "Oke?"
"Iya, lo coba lagi aja, kan?" "Iya! Kita pasti coba lagi."
Hari gue hampir selesai setelah itu karena sekarang gue menghindari 2 orang, begitu bel bunyi gue langsung kabur. Sekarang yang harus gue lakuin cuma buka pintu rumah dan gue bebas seharian.
Gimana jadinya kalau gue buka pintu dan Elliot berdiri di depan gue? Dengan orang tua gue di sampingnya? Dan mereka semua natap gue sambil megang benda douche itu.
Tapi puji Tuhan cuma ada gue, gue masuk sambil ngelempar tas dan nutup pintu. Gimana caranya gue dapat waktu sendiri? Orang tua gue gak pernah biarin gue ngelakuin sesuatu sendirian! Dan sekarang gue dapat rumah cuma buat gue sendiri? Kayaknya mereka udah tahu.
Telepon gue bunyi, ngebuat gue berhenti di tempat dan gue ngeluarin dari saku. Honey Pool nelpon, itu nama Elliot di hp gue. Kayaknya aman buat jawab sekarang gue udah di rumah, "jam tiga udah, bener kan?"
"Gue udah nungguin di mobil? Lo di mana?" "Oh" bener gue kan ngabaikan dia, "Gue udah di rumah, gue jalan kaki" "Lo beneran? Kenapa gak bilang?"
"Gue pikir lo langsung kerja, maaf ya."
"Gak papa kok, gue emang harus kerja, cuma mau mastiin lo udah sampe rumah dengan selamat." "Wah, makasih ya"
"Sama-sama," dia cekikikan, "Nanti kita ngobrol lagi, ya?"
"Iya, gue harus belajar cara douche dulu," oh Lucky, "Seharusnya gue gak ngomong gitu." "Lucky, gak ap-"
"Oke, bye," gue cepet-cepet matiin telepon. Gue hebat banget.
Setelah ngabisin sisa hari gue buat belajar cara douche, yang bisa gue bilang sekarang cuma puji Tuhan ada internet, dan Douche Master Two Thousand.
Beberapa jam lagi Elliot pulang kerja, terus dia bakal nelpon gue. Apa gue bilang 'iya, datang aja, gue udah tahu cara douche sekarang?' Atau 'sayang, coba lagi besok aja.' Gue rasa gue bisa terus-terusan nunda ini sampai gak terjadi, mungkin Elliot gak bakal ngeh.
Ada satu orang lagi yang bisa gue ajak bicara soal ini, kakak gue jago banget soal ginian, gue gak pernah biarin sisi penyayang alamnya itu ngebohongi gue, dia dapet cowok lebih banyak dari siapapun yang gue kenal. "Kamar lo bagus," gue muji setelah dia jawab video call gue.
"Makasih, ini kayak pondokan,"
"Wah," gue coba lihat-lihat dari sudut pandang meja komputernya "Gimana rasanya sendirian di rumah?"
"Hmm..." gue gak melanjutkan, mikirin soal pertanyaan itu, kalau semua orang masih di sini kemarin bisa dihindari.
"Uh oh," kakak gue bereaksi, "Lo semangat banget dua hari yang lalu."
"Gue masih semangat kok, sendirian tuh enak, cuma sendirian sama Elliot yang gue khawatirkan."
"Si pacar," dia senyum, mendekat ke kameranya, "ceritain lebih lanjut."
Narik napas panjang "Oke, jadi intinya kita mau naik ke tahap berikutnya, kan? Dan entah kenapa gue punya masalah soal itu."
"Dia maksa lo buat berhubungan seks?"
"Gak, dengerin gue, gue mau berhubungan seks sama dia, tapi di saat yang sama itu bukan cuma soal berhubungan seks, itu gue kehilangan keperawanan. Gue bakal jelek banget di situ," gue emang udah jelek.
"Kok lo bisa tahu? Emangnya Elliot bilang lo bakal jelek?"
Geleng-geleng kepala "Gak, dia baik banget malah, harusnya bagus sih, tapi gue malah ngerusak semuanya."
"Lucky, sebagai kakak lo, ini tanggung jawab gue buat bilang kalau lo kayak gini tuh sama semua hal, gak cuma berhubungan seks. Ngaku ke mama sama papa, kapanpun lo ditugasin buat pidato di depan umum, dan beberapa bulan lalu waktu lo ketakutan buat bilang mereka kalau lo punya pacar. Lo bereaksi terlalu berlebihan dan setelah kejadiannya lo cuma mikir, apa gunanya gue panik sebegitunya?" Kakak gue baca gue kayak sinopsis di belakang buku.
"Jadi gue harusnya tenang aja?"
"Itu sih gampang diucapkan daripada dilakukan, apalagi buat lo."
"Terus apa yang harus gue lakuin?" Gue butuh seseorang buat ngasih tau, karena gue jelas-jelas gak tahu, sebelum dia jawab bel pintu bunyi. Cek waktu, gue mastiin gue masih punya beberapa jam lagi sebelum harus ngomong sama Elliot, "Tunggu sebentar ya," gue ngejatuhin komputer gue di sofa dan jalan ke pintu.
Buka pintu, pintunya kebuka dan muncul Maisie, "Surprise!" Dia nyengir "May, lo ngapain di sini?"
"Gue datang bawa hadiah," dia ngeluarin sebotol vodka dan jus jeruk dari tasnya. "Dan kearifan bijaksana gue."