Bab 200
"Eh, tunggu, bukan gitu maksudnya..." dia bangkit, mendekatiku. "Cuma, kan aneh aja. Kalo kamu abangku, aku nggak bakal bisa cium kamu."
"Ng-ngapain?" kataku kaget. 'Cium, bego!' Dia makin dekat, dan aku mundur. Mundur sampai mentok pohon. 'Wah, nggak ada jalan keluar.' Aku cuma berdiri di sana, napas tertahan, sementara dia...
Makin lama makin dekat. Aku cuma nutup mata, siap aja membiarkannya terjadi. Pengen banget, tapi bukannya nyium bibirku, dia malah nyium leherku.
Terus bilang, "Kukira aku mau cium kamu?" "Iya... agak mikir gitu sih."
Terus dia mendekat ke telingaku dan berbisik, "Mau?" Aku ngangguk, matanya menatap mataku, dan tanpa ragu, dia langsung menempelkan bibirnya ke bibirku. Waktu nyium aku, dia jilat bibir bawahku, minta akses buat masuk, dan aku kasih aja.
Kami ciuman, nggak berhenti buat istirahat. Terus, terjadi deh. Lututku mulai lemes, ciuman kami begitu intens sampai lututku nggak kuat, aku hampir jatuh, tapi dia gendong aku, ngelingkarin kakiku di pinggangnya, tapi kami tetep nggak berhenti ciuman, malah makin bersemangat. Jadi, di sana, kami berdua, aku di pinggangnya, nempel di pohon gede, ciuman, dia pelan-pelan buka resleting jaketku, narik keluar, dengan kaosku nempel juga, terus dia pelan-pelan buka bajunya, nunjukin perut sixpack dan bisepnya yang bikin ngiler.
Berdiri lagi dengan dua kaki, aku mutusin buat agak berani. Jadi, aku balik posisi, sekarang dia yang nempel di pohon. Aku mulai cium lehernya sambil elus perutnya, dan pelan-pelan turun, cium tiap inci tubuhnya. Waktu aku sampai di kancing dan resleting celananya, aku tahu banget mereka cuma ngehalangin kejantanannya, pengen banget dilepas, jadi aku nggak buang waktu. Waktu aku buka resleting celananya, dia genggam tanganku dan bilang, "Kita harus diem-diem, nggak boleh ada yang tahu." Aku ngangguk setuju, terus dia lepas tanganku, dan aku terusin. Begitu celananya kebuka setengah, 'barang' kerasnya langsung nyembul keluar.
Sambil ngelihat ke arah Alec, aku pelan-pelan ngegenggam. Bisa ngerasain dia gemetar di tanganku. Aku punya kendali penuh atas serigala ini, dan aku berniat buat make dia. Aku pelan-pelan deketin bibirku, nyium, terus aku masukin semuanya ke mulutku. Keluar masuk, atas bawah, aku ngisep 'batang' kerasnya itu seakan-akan hidupku bergantung padanya, dan aku nikmatin banget, dan aku tahu dia juga nikmatin. Dia bergumam pelan, "Oooh, sayangku..." Waktu 'barang' nya ada di mulutku, yang paling enak, makin keras aja.
Terus dia narik aku, nempel bibirnya ke bibirku, dia dorong aku ke pohon, punggungku nempel di pohon, dan dia punya akses penuh ke punggungku. Dia mendekat, menjilati dan mencium leherku, terus berbisik ke telingaku, "Pernah berhubungan seks sama manusia serigala?" Nggak, tapi aku udah ngimpiin.
Bukannya jawab, aku cuma geleng, dia terus nyium punggungku, terus buka celana jinsku, ninggalin aku telanjang bulat, dia genggam bokongku, terus diremes pelan, "Mmm, bokong kamu bagus banget," bener juga sih, kalau aku bilang sendiri.
Aku senyum, "Makasih." Terus dia berdiri lagi, ngusap 'kayu'nya ke bokongku, dan aku dorong bokongku, mohon dia masukin ke 'tempat'ku.
Dia pelan-pelan masukin '9 inci'nya ke lubang kecilku, dan aku suka banget. Waktu dia udah sepenuhnya di dalamku, dia pelan-pelan keluar masuk, terus kesenangan sebenarnya mulai. Dia mulai dorong keras, makin keras, dan aku nahan diri buat nggak teriak kencang-kencang, enak banget rasanya. Waktu dia 'gituan' sama aku, aku bisa ngerasain 'barang'nya di perutku, dan aku suka banget, dia rangkul aku, aku bersandar di pohon, dan aku bisa ngerasain serigalanya keluar, yang bikin dia makin keras 'gituan' sama aku, dan aku tetap nggak nahan diri.
Aku nggak bisa nahan lagi, desahan keluar, "Ooh, sialan, kamu dalem banget!" Dia cium aku, mungkin buat nyuruh aku diem, tapi aku nggak masalah, karena aku cium balik dia. Kami ganti posisi, sekarang bagian depanku ke arahnya, punggungku nempel di pohon, dia angkat aku, ngelingkarin kakiku di pinggangnya lagi, dan dorong 'batang'nya ke dalamku, aku melingkarkan tanganku di lehernya, saat dia dorong keluar masuk, aku mendesah pelan.
"Mmmmm aaahaahh..." Beberapa menit di posisi selanjutnya, aku bisa ngerasain dia siap 'meledak'.
Dia bilang, "Aku mau keluar." Aku narik dia keluar dariku, dan mulai nge-'te*e*k', beberapa menit kemudian, dia keluar semua di dadaku, dan bikin dia keluar, aku juga keluar.
Terus kami pake baju, berdiri di pohon sambil ciuman. "Nggak boleh ada yang tahu," katanya, matanya abu-abunya menusuk mataku.
"Aku tahu, dan nggak akan, aku janji."
Dia cium aku, mau pergi, terus dia balik badan dan bilang, "Balik lagi, dan kali ini tinggalin bajunya, aku nggak butuh." Aku senyum, dan dia berubah jadi serigala lagi, terus lari ke hutan.