Bab 40 Cindy Bertemu Mary
Cindy mikir ada sesuatu yang berusaha ngehalangin dia masuk ke gudang. Dia nyoba maksa buka pintunya, tapi gak mau kebuka; jadi, dia muterin bangunan itu buat nyari cara masuk yang lain.
Pas dia selesai muterin gudang…belok di tikungan terakhir…Mary udah berdiri di depan. Cindy hati-hati nyamperin dia.
"Mary?"
Mary senyum ngeremehin. "Cindy."
"Jadi, lo tau gue siapa?"
"Iya; gue tau lo siapa, Cindy. Gue juga tau Profesor Rhyies itu siapa."
Cindy penasaran. "Lo tau kenapa kita di sini, Mary?"
"Lo gak tau kenapa lo di sini, Cindy? Tunggu bentar…jangan bilang…lo ngetes gue; kan, Cindy? Oke; kita mainin deh game kecil lo. Lo di sini karena Chelsea."
"Chelsea? Kenapa lo mikir kita di sini buat dia, Mary?"
"Karena dia udah gak terkendali."
"Maksudnya gimana dia gak terkendali?"
"Ayo deh, Cindy; harus banget kita bahas ini?" Mary ngeliat ke arah hutan; terus, balik lagi ke Cindy dan senyum. "Oke deh; kalo emang harus kayak gini…dia gak terkendali, karena dia berusaha nyakitin Anna."
"Maksudnya gimana dia berusaha nyakitin Anna, Mary?"
"Maksudnya gimana, Cindy? Dia berusaha nyakitin Anna; gue gak bisa jelasin lebih sederhana dari itu. Lihat aja apa yang dia lakuin ke Anna minggu lalu. Kasihan Anna bisa aja mati kedinginan."
"Jadi; Chelsea yang ngelakuin itu?"
"Iya, Cindy. Gue udah coba ngasih tau Beth; tapi, dia gak percaya sama gue."
"Kenapa dia gak percaya sama lo, Mary?"
"Karena Chelsea udah ngisi kepalanya dengan kebohongan tentang gue."
"Kebohongan apa?"
"Cuma kebohongan, Cindy."
"Oke. Tapi, kenapa Chelsea mau nyakitin Anna?"
"Karena dia mau Beth bantuin dia nemuin Tommy; yang mana gak dia lakuin. Chelsea mau semuanya sesuai keinginannya; dan, kalo gak…dia hukum lo karena itu."
"Tapi, kenapa Anna; kenapa gak langsung ke Beth aja?"
"Oh, tapi dia juga ngelakuin itu. Lo tau, Cindy, nyakitin Anna bakal bikin Beth lebih sakit dari apapun yang bisa Chelsea lakuin ke dia."
"Kenapa Chelsea pengen banget nemuin Tommy, Mary?"
Mary diem, dengan ekspresi bingung di wajahnya. Cindy khawatir dia gak sengaja nanya pertanyaan yang bikin persona ini mulai mikir kebanyakan; kayak yang udah diwanti-wanti profesor bisa terjadi kalo ditanya terlalu dalem. Dia ngerasa perlu banget buat alihin perhatian Mary lagi.
"Tommy di mana sekarang, Mary?"
Ada jeda sebentar sebelum pikiran Mary fokus lagi ke obrolan mereka. "Dia di sekitar sini."
"Di sekitar mana?"
"Di sekitar, Cindy."
"Dia gak suka sama Chelsea banget; ya kan?"
"Lo nyalahin dia, Cindy? Gue rasa lo juga gak bakal suka sama orang yang mukul kepala lo pake palu."
"Mungkin juga gak. Tapi, dia suka sama lo. Beth bilang Tommy bilang dia nginep di gudang bareng lo; dia suka sama lo karena lo baik sama dia."
"Terus kenapa?"
"Gak ada…gue cuma bilang apa yang gue denger; itu aja."
Mary natap Cindy selama semenit, terus nanya, "Kenapa lo mau masuk gudang?"
"Apa?"
"Lo tadi mau masuk gudang; kan, Cindy?"
"Iya, gue mau, Mary."
"Lo mau apa?"
"Apa bedanya, Mary; emangnya gue gak boleh masuk?"
Mary nyengir. "Main lagi, Cindy?"
"Maksudnya gimana?"
"Maksud gue game di mana lo jawab pertanyaan pake pertanyaan. Gue tanya kenapa lo mau masuk gudang. Lo mau apa, Cindy?"
"Gue cuma mau liat dalemnya, Mary; itu aja."
"Tapi, kenapa? Emangnya lo belum pernah liat dalem gudang sebelumnya?"
"Kayak yang gue bilang, gue cuma mau liat-liat. Tapi, lo gak bakal biarin gue; kan?"
"Enggak."
"Kenapa enggak?"
Mary balik badan, buka sedikit pintu sisi kiri dan ngintip; terus, nutup pintunya. "Karena Tommy lagi tidur siang; dan, gue gak mau lo ganggu dia."
Cindy geleng-geleng kepala dan senyum. "Berarti gue bisa masuk nanti; pas dia udah bangun dari tidur siang?"
"Mungkin; kalo lo mau."
"Gue mau."
"Terserah deh yang bikin lo seneng, Cindy."
"Dan, apa yang bikin lo seneng, Mary?"
"Ditinggal sendiri."
"Lo yakin soal itu, Mary?"
"Yakin soal apa, Cindy?"
"Soal kesendirian bikin lo seneng?"
"Iya, gue yakin. Kenapa?"
"Gue cuma mikir; kalo kesendirian bikin lo seneng, kenapa lo ngehubungin Anna dan Beth?"
Pikiran Mary buntu lagi karena pertanyaan Cindy yang kepo, dan dia mundur masuk gudang; ninggalin pintunya sedikit kebuka. Cindy meraih pintu; tapi, pintu itu keburu ketutup sebelum dia bisa pegang gagangnya. Cindy nyoba buka pintu lagi; tapi, dia gak bisa.