Bab 63 Agenda
Sang Sheriff tertawa, "Yup; Kayaknya mereka gak bikin kayak gini lagi, deh."
Cindy gabung sama Sheriff dan omnya.
"Jadi, Kiddo;" tanya Wakil itu, "Apaan nih yang kudengar kita balik ke satu hantu lagi, sekarang?"
"Mungkin."
"Keren; jadi, siapa yang kita curigai sebagai si pembunuh? Gue nebaknya bisa aja salah satu anak Steinman."
"Yah, anak Texas ini mau pasang taruhan sama Tommy; dia satu-satunya yang sejauh ini kita tahu beneran pernah ngebunuh."
"Belum lagi fakta kalau yang dia bunuh itu adiknya sendiri; jadi, Chelsea gak mungkin jadi pembunuhnya." Wakil Hopkins terus nanya, "Tapi; gimana dengan Charles?"
Sheriff ngejawab, "Obituari yang ditemukan tentang Nona Delilah bilang Charles meninggal umur tiga tahun karena pneumonia. Gue ulang; Tommy itu pembunuh kalian."
"Gue rasa lo bener, Lloyd." Si Wakil natap keponakannya minta pendapat.
Cindy naruh tangannya di belakang leher, ngegolin kepalanya ke belakang buat ngelihat ke atas; terus, balik lagi natap om dan Sheriffnya. "Mungkin dia iya; mungkin dia enggak. Sekarang, gak penting siapa pembunuhnya. Kita harus cari tahu yang mana dari mereka ini kehadiran itu…mungkin aja bukan si pembunuh."
"Nona Cindy; kalau kehadiran ini punya banyak kepribadian…dan, salah satunya itu kepribadiannya si pembunuh…gak menurut lo lebih baik kita tahu siapa pembunuhnya?"
"Enggak juga, Sheriff. Buat nyelesain masalah ini…dan, buat balikin Anna dengan aman…kita harus tahu apa yang perlu diselesain; dan, apa agenda dari kehadiran itu."
"Dan, gimana caranya kita mikir buat nyari tahu itu?"
Si Wakil nyaranin, "Gue rasa kita harus tetep fokus buat coba nentuin persona mana yang jadi kehadiran sebenarnya, deh."
"Tapi; kita mulai dari mana, Mike? Gue bener-bener gak tahu. Ada ide Nona Cindy?"
"Belum ada."
"Yah, kita tahu Mary udah gak masuk hitungan; Mary Howell yang asli masih hidup, jadi…"
"Itu dia, Om Mike!" Cindy berseru.
Wakil Hopkins bingung. "Apaan tuh, Kiddo?"
"Ya Tuhan!" Cindy naruh kedua tangannya di mulut sambil ngos-ngosan. Dia mulai mondar-mandir.
"Cindy, Kiddo, ada apa sih?"
Cindy gak denger omnya; dia cuma mondar-mandir, ngomong keras ke dirinya sendiri, "Shit! Kenapa gue gak lihat ini sebelumnya?! Sialan! Ya Tuhan…hari ini hari apa sih?"
Sheriff ngejawab, "Kamis."
Cindy buru-buru nyaut, "Enggak! Tanggalnya…tanggal berapa hari ini?"
"30 Agustus; Kiddo."
"Sial! Oke, tenangin diri lo, Cindy girl; masih ada waktu kok."
"Waktu buat apa, Nona Cindy?"
Cindy manggil, "Profesor Rhyies! Beth! Martin! Keluar sini!"
Mereka keluar rumah dengan tergesa-gesa; Beth yang mimpin mereka bertiga. "Ada apa, Cindy…kamu udah nemuin Anna?!"
Cindy ngepakin tangannya di depan sambil ngegeleng-gelengin kepala dengan semangat. "Enggak! Belum, Beth."
"Terus; ada apa, Nona Lidestrom?" Profesor Rhyies nanya.
Cindy udah capek; mulai sesak napas waktu ngomong. "Gue rasa gue udah nemuin jawabannya."
"Sabar, Kiddo; pelan-pelan, tarik napas, terus kasih tahu kita apa yang kamu temuin." Omnya coba nenangin dia dengan megang tangannya; sambil nepuk-nepuk punggungnya dengan tangan yang lain.
"Nona Cindy, menurutmu kamu tahu siapa kehadirannya?"
"Enggak, Sheriff; tapi, gue rasa gue udah nemuin agendanya."
"Yang mana, Nona Lidestrom." Profesor ngelepas kacamatanya, bersiap buat ngelap.
"Oke, pertama-tama; kayak yang udah gue bilang sebelumnya, lumbung itu pusat dari semua kegiatan ini. Lupakan rumahnya; lupakan institutnya…lumbung; itu titik fokus dari semua hantu ini. Dan, bisa dibilang kita lagi ngomongin malam waktu Mary Howell ngebunuh si pembunuh berantai.
Om Mike; gue sadar waktu lo ngomongin gimana kita gak perlu mikirin Mary, karena dia masih hidup. Mary yang harusnya kita perhatiin selama ini. Dia selamat malam itu. Dia ngebunuh si pembunuh malam itu tepat di lumbung sana! Mary itu agendanya!"
"Mary?" Beth bingung, "Maksudnya Mary itu agendanya apa, Cindy? Dan, apa hubungannya sama Anna?"
Cindy nyamperin Beth…megang salah satu tangan Beth di tangannya; sambil ngelus rambut Beth dengan tangan yang lain…dan ngomong dengan lembut, menenangkan, "Beth, ini gak bakal gampang buat kamu denger; tapi tolong, coba tahan dan dengerin apa yang mau gue kasih tahu. Dan tolong, jangan panik; kita punya waktu buat nyelesain ini. Tapi, kalau kamu terlalu khawatir, kamu gak bakal banyak bantu Anna. Oke?"
"Oke; tapi, kamu tahu gak, Cindy…sebenarnya jujur aja sama kamu…kamu udah bikin gue agak khawatir, nih. Ada apa sih? Kasih tahu gue, tolong." Beth ngapus air mata dari sudut matanya.
"Maaf, Beth, kamu bener; gue gak bantu banyak sih dengan ngomong gitu sebelumnya." Cindy tertawa gugup. "Oke deh, ini dia. Gue rasa persona 'pembunuh'nya berencana buat pake Anna buat gantiin Mary malam 18 September 1961. Gue rasa…" Cindy ngeratin genggaman tangannya di tangan Beth saat dia lanjut, "si pembunuh marah karena dia gagal malam itu gara-gara anak kecil umur enam tahun, dan pengen nebus diri dengan ngebikin ulang malam itu; mengubah rangkaian kejadian sesuai keinginannya."
Beth langsung berlutut sambil megang dadanya, "Ya Tuhan; Anna!"
Cindy coba nahan Beth biar gak jatuh; saat yang lain nyamperin buat bantu menstabilkan Beth yang setengah trauma. Cindy teriak, "Beth! Beth! Dengerin gue! Masih ada waktu! Kita punya waktu! Tanggal delapan belas masih dua setengah minggu lagi! Kita bisa cari tahu masalah ini dan berhentiin! Beth!"